Selasa, 26 Maret 2013

Obsesiku


Aku Surti, masih muda, seorang istri dari suami yang sangat kucintai. Tetapi aku punya obsesi yang terus terang (sebagai istri menjadi kurang ajar dan tidak tahu diri) yang belum pernah terpenuhi hingga saat ini. Aku ingin seorang lelaki di luar suamiku, lelaki yang macam gimana tidak penting, tetapi penisnya besar dengan tubuhnya yang berotot. Aku ingin tidur dengannya. Itu obsesiku,...
hingga pada suatu sampai kejadian itu terjadi.

Karena ada sesuatu urusan, suamiku harus pergi ke Malang untuk 5 hari termasuk perjalanan. Aku tidak dapat ikut karena kebetulan ada perbaikan rumah, menambah ruang untuk gudang dan aku bertanggung jawab agar semuanya dapat berjalan sesuai rencana, termasuk mengawasi pekerjaan para tukangnya.

Setiap hari kusiapkan minuman dan makanan kecil untuk 3 orang tukang batu dan kayu. Mandornya Saridjo orang Tegal. Kebetulan Saridjo, kira-kira berumur 45 tahun, orangnya cekatan dan rajin. Dan kebetulan juga tanpa kusadari sebelumnya, orangnya besar dan berotot. Dengan kulitnya yang kehitaman, Saridjo bekerja ditimpa panas matahari dari pagi hingga sore hari. Oleh karenanya dia selalu hanya pakai celana kolor pendek dan kaos singlet untuk membungkus tubuhnya, agar mengurangi gerahnya selama bekerja.

Sore itu kira-kira pukul 15.00 pekerjaanku telah selesai, sehingga aku dapat sedikit beristirahat di kamar tidurku. Sementara itu para tukang di bawah mandor Kang Saridjo, bekerja di luar nampak dari jendela kamarku tanpa aku khawatir mereka dapat melihatku tergolek di tempat tidur karena memang demikian adanya. Pandangan dari luar sulit menjangkau ke dalam dengan adanya kaca pada jendela yang membuat silau.

Kuperhatikan Saridjo, setiap kali dia membungkuk mengambil semen untuk ditemplokkan ke dinding. Badannya basah mengkilat penuh keringat. Sebentar-sebentar tangannya menyeka keringatnya itu.
Ahh.., badan itu.. celana pendek dan ketat itu..
Obsesiku tiba-tiba menyeruak timbul dan jantungku berdegup keras.

Kepergian suamiku telah 3 hari, aku memang merasa mulai sepi. Dan 2 hari lagi suamiku akan sampai di rumah kembali. Ya, 2 hari lagi. Sementara di luar jendela ada lelaki berotot mengkilat penuh keringat sangat sesuai dengan obsesiku selama ini. Bagaimana bau keringatnya itu..? Ketiaknya..? Atau selangkangannya..? Aku tertegun. Ada rangsangan yang menyelusuri tubuhku dan mendesak kesadaran untuk meninggalkan ingatan pada suami. Aku terdorong untuk mengambil kesempatan yang tersisa 2 hari ini. Inilah kesempatan mewujudkan obsesiku, impian mengenai lelaki lain untuk teman tidurku.

Tiba-tiba kulihat tukang-tukang di luar beres-beres sebagai tanda selesainya jam kerja hari itu. Biasanya mereka membersihkan badan dan mandi sebelum pulang. Dan pikiranku berjalan cepat seperti kilat, jantungku berdegup semakin keras hingga terdengar dari telingaku. Aku gemetar, sejenis gemetar yang nikmat. Ahh.. ooh..

Aku keluar kamar dan, "Kang Saridjo sebelum pulang tolong saya sebentar..!"
"Ya, Bu.., apa Bu..? Saya mandi dulu sebentar."
"Nanti dulu.. Biar temennya saja mandi dulu, Kang Saridjo bantuin saya.. Sedikit koq..!"
Demikian peristiwa itu berjalan cepat. Aku menahan Kang Saridjo yang masih bau keringat untuk membantuku melakukan sesuatu yang dia belum tahu. Pokoknya aku harus dapat menahannya.

Aku pura-pura sibuk membongkar lemari dan menurunkan apa saja yang ada di dalamnya.
"Ini Kang banyak kecoaknya, tolong bantu dikeluar-keluarin dulu, saya mau ganti alasnya."
Dia mulai ikut membongkar isi lemari.
"Apa lagi, Bu..?"
"Ya, itu.. Ambil koran yang bersih.. eehh.., disapu dulu baru diganti alas korannya.." aku memberi tugas dan bersambung tugas hingga teman-temannya siap untuk pulang.

Aku berbisik, "Suruh mereka duluan..!" suatu omongan yang provokatif penuh menimbulkan tanda tanya bagi Kang Saridjo tentunya.
Dia melihat ke arah wajahku, dan aku berkedip sebelah mata. Dia senyum.., sepertinya mengerti.Aku sudah semakin nekat.
"Pulang duluan, geeh..! Aku masih bantuin Ibu, nih..!" katanya menyuruh teman-temannya pulang.
Aku tidak sabar dan semakin panas dingin.

Lima menit kemudian, kuperkirakan teman-teman Kang Saridjo sudah agak jauh. Intuisi dan reflek-reflekku mengalir. Dari sebelah dinding aku mengangkat bundelan buku dan aku menjatuhkan diri.
"Aduh.. duh.. duhh, achh.. Kakiku kesleo..!"
Buru-buru Kang Saridjo bangun menghampiriku, "Kenapa, Bu..?"
"Ini, nyandung buku.." aku menyalahkan buku sambil, "Aduuhh.. aacchh..!" dan mengurut-urut betisku.

"Tolong Kang..!" tanganku menggapai tangan Kang Saridjo, itu pertama kali aku menyentuhnya.
"Ibu istirahat saja.. Biar saya saja yang beberes.."
"Yaa.., tuntun aku ke kamar tidur..!" pintaku sambil terpincang-pincang memegangi betisku.
Kang Saridjo memapahku. Tangan dan bahuku menyentuh badannya yang masih lengket karena keringat. Saat itu sempat aku juga mencium bau badan Saridjo. Ooohh.. bau lelaki.

Aku kemudian telungkup berbaring di kasur.
"Tolong urut sini dong, Kang..!"
Mungkin dia menjadi bengong tetapi aku masa bodo, pura-pura tidak melihat, dan bergaya masalah demikian biasa, minta tolong karena kesakitan.

Dia mulai mengurut-urut betisku.
"Acch.. Oocchh.. Aaacchh..!"
"Sakit Bu..?"
"Ya.. iya to, kamu ini gimana sih..? Terus urut pelan-pelan..!"
Aacchh.., telapak tangannya yang kasar. Tapak tangan kuli, yang pada saat begini berubah menjadi tangan kasar penuh rangsangan.

Aku yang setengah tengkurap di kasur menggeliat-geliat pura-pura kesakitan.
"Hhaacch.. hacchh.. eecchh.." begitu aku merintih-rintih, makin membuat Kang Saridjo bingung tentunya.

Tangan Kang Saridjo terus mengurut-urut betisku dengan hati-hati. Sekali lagi reflek dan intuisiku mengalir. Rintihanku kusertai geliat tubuh. Terkadang pantatku yang mulus kuangkat, seakan dalam menahan sakit. Tetapi sementara itu rintihan yang keluar dari mulutku kusertai pula dengan meremas-remas bantal. Tentu ini menjadi pemandangan yang sangat erotis dan menggoda bagi lelaki. Dan Kang Saridjo, seperti yang kurasakan tidak banyak bertanya lagi, terus mengurut-urut betisku.

Makin lama rintihanku berubah nada, menjadi desahan. Aku tidak merintih sekarang. Aku mendesah sambil tanganku terus meremas-remas apa saja dengan maksud demonstratif agar didengar dan disaksikan Kang Saridjo. Dan.., rasanya ada hasil. Tangan Kang Saridjo terus mengurut lebih naik lagi hampir pada lipatan dengkulku. Kubiarkan dengan terus mendesah-desah secara erotis. Ya, erotis.

"Ahh.. aacchh..! Terus Kang, enaakk..! Ennaak Kangg..!" desahku lagi.
Tentu efeknya pada Kang Saridjo seperti pisau bermata dua. Enak apanya..? Enak bagaimana..? Sakitnya baikan atau..? Aku tidak perduli dan naluriku terus berjalan untuk membangkitan emosi Kang Saridjo.

Dan ketika tangan Kang Saridjo kurasakan makin berani ke atas hingga menyentuh ujung pahaku, aku sudah yakin, Kang Saridjo sudah masuk perangkapku. Aku terus mendesah-desah sambil meremas-remas apa saja. Ya bantal, kain sprei, selimut, yang kemudian bahkan kupeluki guling sementara pantatku bergoyang naik turun sebagaimana orang menahan sakit. Dan ketika tangan Kang Saridjo yang kasar itu meremas pahaku, darahku berdesir sangat kuat, jantungku berdegup, mataku mulai kabur. Yang kurasakan hanya kenikmatan sentuhan Kang Saridjo yang demikian kutunggu.

Kudorong lagi keberaniannya dengan desahan dan rintihan erotis.
"Yaa.. aacchh.. ennaakk.., terus Kang..! Yaahh..!"
Dan tangan Kang Saridjo tidak lagi menunjukkan keragu-raguan.

Ketika akhirnya jari-jari tangannya yang kasar dan kaku benar-benar menyentuh bibir vaginaku, aku tahu bahwa Kang Saridjo benar-benar telah siap memegang kendali untuk mengajakku menuju kenikmatan dahsyat yang akan sama-sama kami alami. Aku bergelinjang hebat saat jari tangannya menyibak CD dan merengkuh bibir kemaluanku yang sejak tadi telah membasah karena birahi. Aku mulai benar-benar merintih karena nikmat yang menerpaku.

Seluruh tubuhku menggelinjang. Vaginaku banjir oleh cairan birahi. Pantatku kuangkat sedikit naik untuk memberi kesempatan tangan Kang Saridjo leluasa meremasi kemaluanku. Ternyata perkembangan ini disergap cepat oleh Kang Saridjo.
"Oohh.., Bu.. Aku nggak tahan, Bu..!""Aachh.. eecchh.." jawabanku hanya rintihan dan desahan yang penuh kehausan dan kebuasan atau keliaran.
Begitu juga Kang Saridjo, keliarannya langsung muncul tidak dapat lagi terbendung.

Rokku disibakkan hingga seluruh paha dan pantatku terbuka. Badannya menindihku dan wajahnya langsung menubrukku, dan bibirnya langsung menyedot dan menjilati paha dan pantatku, sementara tangan kanannya meneruskan meremasi vaginaku. Tangan kirinya menyelusup ke bawah blus meraih buah dadaku, meremasinya dan mempermainkan puting susuku. Woowww.. Dahsyat..! Belum pernah aku merasakan gelinjang senikmat ini selama masa perkawinanku.

Bau badan dan kelaki-lakian Kang Saridjo itu yang membuat segalanya menjadi bergolak terbakar sangat dahsyat. Dia mulai mengerang seperti singa yang lapar. Kemudian dengan tangannya yang kekar, tubuhku dibalikkannya hingga telentang. Tiba-tiba tangan-tangannya meruyak dan merobek-robek rokku. Aku sangat kaget dan serem dengan adanya kejadian itu. Sesaat aku tersadar, tetapi keburu mulutku disumpal dengan lidahnya yang dengan menggila menghisapi lidah dan ludah di mulutku.

Untuk sesaat birahiku mau lenyap. Kecewa, marah, takut, seram, panik campur aduk, tetapi ternyata itu hanya sesaat. Sebuah sensasi erotik tiba-tiba menggelegak melalui darahku. Kekasaran itu menjadi berubah menjadi sensasi birahi yang dahsyat bagiku, melengkapi obsesiku mengenai seorang lelaki berotot untuk meniduriku. Aku sepertinya hendak diperkosanya. Aku harus melayani nafsu singa lapar.

Tangan-tangan yang meruyak ke atas dan merobek-robek rokku telah menemukan sasarannya. Susu-susuku diremasinya. Tubuhnya yang entah berapa beratnya menindihku. Susuku dicemolinya. Digigiti, dihisap-hisap. Wajahnya membenam ke dada dan ketiakku, lidahnya menjilat, bibirnya menyedot dan menggigiti ketiakku.
"Ohh.. Kang Saridjo jangan lepaskan.. aahh..! Teruuss. Djoo.. nikmatnya akan selalu terukir di hatiku.. Djoo..!"

Bersambung . . . .


Obsesiku - 2
Rasanya berjam-jam dia melumpuhkanku. Dan aku menikmati dalam kepasrahan. Aku menikmati sebagai orang taklukkan. Ya, aku takluk kepadamu Djo.
"Kang.., aku nggak tahan Kang..!" erangku dalam kenikmatan.
Dan Kang Saridjo semakin menggila. Ketiakku pedih. Berikutnya wajahnya dari ketiak dan susuku turun ke perut, kemudian pinggul. Kecupan, sedotan dan jilatan terus bertubi mengiringinya ...
membuat aku seperti kesetanan.

Sambil terus bergeser bibirnya turun ke perut, turun ke selangkangan, turun dan.. woohh.. Dengan giginya ditariknya dan robek lagi CD-ku. Aahh.., sungguh kekasaran yang nikmat dalam badai birahiku.

Lidah itu.., lidah Kang Saridjo menyentuhi bibir-bibir vaginaku. Lidahnya yang ternyata juga kasar (mungkin lidah kuli pula) seperti amplas menjilati klitoris terus ke lubang vaginaku. "Lidahmu itu.. Djo.. kenapa kamu terus menusuki lubang vaginaku Djoo. Ampuunn..!"
Aku merasakan kegatalan yang dahsyat dari lubang vaginaku. Pantatku menjadi menggelinjang naik turun tidak karuan. Kuterkam kepalanya. Kutekan wajahnya ke selangkanganku, ke lubang kemaluanku, rambutnya kujambak-jambak dan remasi sebagai pelampiasan kegatalan vagina. Kucabut-cabut rambutnya. Emosiku sangat galau.

Kegatalan itu sangat memuncak. Kegatalan itu membuatku hilang kesadaran akan sekeliling. Aku berteriak.., mengaduh-aduh menghadapi kenikmatan tidak terhingga. Dan Kang Saridjo tahu, aku tidak mau berhenti.
"Aku.. orgasmee.. ohh.. orgasme.. ohh..!"
Sangat jarang kudapatkan orgasme.

Aku menjadi sangat haus. Mulutku kering. Tenggorokanku kering.. Hauss.. tolong.. Ooohh.. hausnya.. Sementara itu Kang Saridjo masih terus menjilati kemaluanku. Seluruh cairan dari vaginaku dijilatinya dan diminumnya. Dan membayangkan hal itu membuat birahiku tidak luruh karena orgasme tadi. Dasar kemaluan yang selalu gatal. Milikku, vaginaku, kemaluanku belum terpuaskan juga. Seluruh peristiwa ini sangat sensasional hingga hausku menerjang lagi.

Kutarik dia ke atas, mulutku mencari sasaran. Mulut Kang Saridjo serasa ingin kukunyah. Bibirnya yang tebal kugigit keras hingga dia mengaduh. Aku sudah hanyut dalam nafsu hewaniah. Indraku tidak lagi berfungsi, pandangan kabur, telinga tersumpal. Yang kurasakan hanya gelinjang pada pori-pori di seluruh permukaan kulitku, di paha, di perut, di payudara dan puting-putingnya.

Kali ini Kang Saridjo memitingku, ototnya yang kuat menjepitku hingga sesak nafasku. Ada sedikit celah di antara ketiaknya. Aku dapat sedikit bernafas dan sekaligus menggigiti bahu, dada dan menjilati ketiaknya yang menebar bau kejantanannya itu.

Ternyata tanpa setahuku Kang Saridjo sendiri sudah telanjang bulat. Terasa ada sodokan-sodokan menimpa perutku dan kemudian turun ke selangkanganku dan mengarah ke lubang kemaluanku. Sodokkan itu seirama dengan naik turunnya pantat Kang Saridjo yang menindih seluruh tubuhku. Gerakkan memompa. Batang kejantanannya yang kurasakan panas dan bebal mengubek-ubek bibir kemaluanku yang 'mekrok' minta penis besar Kang Saridjo lekas menyuntiknya. Aku mulai menggoyang pantat untuk membantu kehausan dan kegatalan kemaluanku agar dapat selekasnya melahap batang kemaluan Kang Saridjo.

Terasa 'helm' penis Kang Saridjo seperti palu godam yang menonjok-nonjok untuk menghancurkan lubang sempit bibir vaginaku. Sesungguhnya bukan lubang itu sempit, tetapi nafsu birahilah yang membuat otot-otot bibir vagina mencengkeram dahsyat dan sulit untuk ditembus.
"Kasih ludah Kang..!" dengan penuh nafsu kusarankan Kang Saridjo agar selekasnya memasukkan meriamnya ke lubangku.
Dan kemudian, bless.. bless.. bless.. bless.., sungguh sempurna. Batang kejantanan itu telah mendapatkan sarangnya.

Aku bergoyang, Kang Saridjo memompa. Pelan.. bless.. Vaginaku menangkap dengan lahap senti demi senti batang kemaluan Kang Saridjo.
"Aacchh.. nikmatnyaa.. hoh.. Djoo.. Kang Djoo..!" aku terus meracau tidak tahan menanggung nikmat.
Kuku-kuku jariku menghunjam ke bahu Kang Saridjo, nafsuku benar-benar meledak tidak terkendali. Kerongkonganku kering dan terus terasa semakin kering."Djoo.., tolong.. Kang.. Ludahmu Kang.. Ludahmu Kang..! Aku mau ludahmu.. Tolong ludahmu Kang..! Ludahi aku.. ludahi mulutku.. ludahmu Kang.. Ludahi mulutku..! Aayyoo.. Kang aku hauss.." aku demikian ingin Saridjo meludahiku, meludahi mulutku, membuang ludahnya ke mulutku.
Ooohh.., bukankah aku telah menjadi taklukannya. Aku menjadi budaknya.. kan..?

"Ayoo Kang..! Ludahmu Kang..!" aku terus meracau.
Kang SariDjo heran, kenapa aku dapat menjadi begini. Tetapi kemudian melalui bibir tebalnya Kang Saridjo membuang ludah yang terkumpul di mulutnya ke mulutku. Aahh.. Kukenyam-kenyam kemudian kutelan. Kang Saridjo terus meludahi mulutku. Setiap kali dia mengumpulkan ludahnya dan membuang ke mulutku, birahiku semakin menggila.

Dan di bawah sana, batang kejantanan besar milik Kang Saridjo terus menghantam kemaluanku tanpa ampun. Genjotannya semakin kencang, semakin menghunjam, semakin dalam. Kegatalan kemaluanku juga semakin bertambah, hingga pantatku naik-naik seakan mengejar ujung batang kemaluannya untuk lebih dalam meruyak ke pintu rahimku.

Berkali-kali aku telah orgasme. Kemaluanku membanjir. Kalau kemaluan suamiku pasti sudah 'blonyoh' ngoplok-oplok, tetapi batang kejantanan besar milik Kang Saridjo tetap sesak dalam vaginaku. Aku yakin karena ukurannya yang besar itu. Dan itu pula yang membuat birahiku tidak padam-padam.

Kang Saridjo memang hebat. Terbukti pada saat mengayunkan pantatnya, tonjolan otot-otot pada lengannya keluar. Kulitnya yang mengkilat oleh keringat berminyak memperjelas anatomi tubuhnya. Setelah satu jam kami berasyik masyuk, Kang Saridjo sama sekali tidak menunjukkan kelelahan. Seakan kandungan energinya tidak terbatas. Mulutnya, lidahnya, tangannya, pantatnya hingga batang kejantanannya semua aktif belum sesaat pun istirahat. Usianya yang 45 tahun bukan menjadi hambatan, walaupun melayaniku yang jauh lebih muda.

Seperti saat ini, tembakkan batang kejantanannya pada vaginaku terus mencecar. Makin cepat dan dalam. Aku sendiri di antara rasa nikmat yang memang terus datang, sudah merasa payah. Udara kamar yang panas menambah rasa lelah tadi.
"Acchh.. uuhh.. oohh.. aacchh..!" kembali aku mendapatkan orgasmeku, kemaluanku makin banjir.Begitu bervariasi bunyi batang kejantanan dan kemaluanku yang saling interaksi, dan aku merasakan lelahnya. Aku ingin berhenti sebentar. Kudorong tubuh Kang Saridjo.
"Capee, Kang..!" kataku.

Tetapi kebuasan Kang Saridjo belum menunjukkan keredaan. Batang kejantanannya keluar masuk kemaluanku semakin cepat. Dia memiringkan tubuhku ke kanan. Kaki kiriku diangkatnya hingga membuat celah pahaku menjadi lebih luas. Batang kejantanannya jadi masuk lebih menghunjam lagi. Ahh.. enaknyaa.. Tetapi badanku tetap terasa lelah dan gairahku menurun.
"Capai, Kang..! Istirahat dulu.. Ahh..!"

Kali ini kupikir dia mengerti. Dia mencabut batang kejantanannya dari kemaluanku, dan dia menaruh bantal pada dinding dan diangkatnya aku untuk bersandar pada bantal tersebut. Jadi sekarang kepalaku lebih terangkat dan dapat menyender di dinding. Sepertinya memang aku disuruh istirahat dulu. Tetapi, diluar dugaanku, Kang Saridjo yang telanjang berdiri di tempat tidur, dengan batang kejantanannya yang tetap mengkilat, tegak dan kaku mengangkangiku, menghampiriku dan dengan setengah berjongkok, mengasongkan miliknya ke wajahku. Dia sentuhkan kepala penisnya ke bibir-bibirku.

"Isep, Bu.. Ayoo.. isep..!"
Aku belum lagi siap, kan..? Kutolak karena memang ingin berhenti dulu, tetapi.., "Ayoo, Bu..!Iseepp..! Saya nggak tahan lagi, nihh.., saya mau Ibu ngisep-isep, menjilat-jilat dan nanti minum pejuhnya.. Saya mau muncrat di mulut Ibu. Dan Ibu harus telan semua pejuh saya. Ayoo..!" katanya sambil tangannya meraih kepalaku mendekatkannya ke arah batang kejantanannya.

Ahh.., penaklukku benar-benar, nihh.. Dan aku heran, sensasi itu justru datang lagi. Gairah dan birahiku tiba-tiba menggelegak lagi. Nada omongan Kang Saridjo tadi seperti sihir. Seorang tuan yang menginjak-injak harga diri budaknya karena itu memang hak dia. Dan aku adalah budak yang boleh diapakan saja. Dan aku harus patuh, tanpa pilihan. Sihir itu betul-betul meluluhkan tetapi bukan melumpuhkan.

Karena sihir itu, tenagaku seakan pulih dan hadir lagi dengan birahi yang penuh. Kuraih batang kejantanan itu. Dalam genggamanku kuperhatikan kepalanya besar dan padat seperti jamur, dan terlihat mengkilat. Hoohh.., indahnya.

Belahan lubang kencingnya besar, seakan menyobek tepat di tengah seperti jamur yang merekah. Sangat menantangku. Woow.., sejak tadi aku memang belum secara langsung melihatnya. Kuelus kepala itu sesaat dan kemudian kedekatkan bibirku, lidahku. Hidungku menghirup aroma jantan dari kelamin Kang Saridjo. Dan lidahku mulai menjilat. Kujilat lubang kencingnya. Asin. Kujilati tepi-tepiannya. Kang Saridjo melenguh.

Lenguhan yang begitu nikmat merasuk ke telingaku.
"Kang.. apapun maumu. Aku budakmu Kang aacchh..!" desahku.
Kemudian batang kejantanannya mulai kukulum. Lahap seperti makan es mambo, setiap jilatan dan kuluman disertai bunyi. Aduuhh, sangat erotis.. eksotis.. Tidak pernah kudapatkan sebelumnya. Bahkan dengan suamiku pun tidak sejauh ini. Edan.

Rupanya cara ini yang akhirnya merontokkan pertahanan Kang Saridjo. Tidak terlalu lama, akhirnya dia mencapai pencak kenikmatannya dibarengi dengan rintihan, erangan dan racauan tidak karuanan yang keluar dari mulutnya.
"Bu.., budakku.., caboku.. uuhh.., isep teruuss..! Caboku.. Aku mau keluaarr.. Sayangku pelacurku.. zinahku.. cabokuu.. (gila, aneh, dampratan, makian, hinaan yang sangat merendahkan dan tidak terbayangkan olehku untuk seumur hidupku itu sekali lagi justru sangat memacu birahiku, nafsuku bergejolak) Ooohh.. oohh.. achh, Bu.. Aku keluar.., telenn..! Minum pejuhku..! Telen niihh..!" katanya sambil menekan kepalaku ke arah selangkangannya hingga aku gelagapan.

Ber'liter-liter' Kang Saridjo menyemprotkan spermanya ke mulutku. Hangat.., muncrat-muncrat memenuhi rongga mulutku. Kukecap-kecapi sebelum aku mulai menelannya (pada suamiku aku tidak akan mau begini, jijik, hii..!). Tapi sperma Kang Saridjo telah membasahi tenggorokkanku. Masih kuperas-peras batang kejantanannya hingga tidak ada yang tersisa.

Kujilati batang-batangnya hingga bersih. Rasanya sayang ada satu tetes pun yang tercecer. Terakhir, kulihat pula ada cipratan-cipratan sperma di bulu kemaluannya dan selangkangannya. Kudorong Kang Saridjo telentang, dengan lidahku kuhisap semuanya hingga benar-benar bersih. Ada banjir di kemaluanku dan gatal. Aku ingin disenggamai lagi.

Sementara itu Kang Saridjo jatuh lunglai. Keringatnya mengucur dari seluruh tubuhnya. Tangannya terentang mencari angin. Dan ketiaknya yang penuh bulu terbuka. Pelan-pelan kedekati, kubenamkan mulutku di ketiak itu. Hidungku menyergap bau ketiak. Aku menjilat-jilat. Kang Saridjo tertidur. Aku terus mencari kehangatan dan kenikmatan yang tersedia di tubuh Kang Saridjo yang tertidur lelap karena lelah.

Itulah kejadian yang menjadi kenangan bagiku bersama Kang Saridjo sebagai pengisi kekosongan dan perasaan birahiku. Akhirnya obsesiku tercapaikan dan aku puas.

READ MORE - Obsesiku

Kenikmatan yang tiada taranya


Ini yang mewangikan
Ketika aku membutuhkan seorang wanita ada dalam hari-hariku yang sepi, hadirlah sosok perempuan yang mampu menggodaku untuk mendekatinya. Untuk pembaca ketahui aku adalah pria yang berpenampilan menarik, kulit putih dan tinggi 165 Cm. Saat ini usiaku 26 tahun dan berdomisili di jogjakarta.

Bulan maret 2007 awal aku bertemu dengannya tetapi aku sangat cuek dan tidak perduli dengan Nina walaupun dia sangat menarik. Nina berusia 21 tahun dengan lingkar dada 34, pinggulnya seksi didukung pantatnya montok dan kulitnya bersih. Tidak perduli dengan dirinya karena pada saat itu aku masih memiliki seorang kekasih tetapi kami terpisah cukup jauh, aku di Jogja dan dia di Surabaya. Berusaha untuk selalu setia adalah sesuatu yang harus aku lakukan karena aku sangat mencintai kekasihku. Tetapi kerap kali pertengkaran terjadi diantara kami, membuat jenuh dan lelah untuk menjalani hubunganku dengannya. Seiring berjalannya waktu aku dan kekasihku memutuskan untuk berpisah baik-baik.

Setelah kami berpisah, ini membuka jalan bagiku untuk mendekati Nina. Teman-temanku banyak sekali yang mendekati Nina dan teman kuliahnya pun banyak yang mencoba untuk mendapatkan perhatiaannya. Tetapi ini tidak mengurungkan niatku untuk mencoba, dan ternyata aku berhasil mencuri perhatian Nina. Maka aku beranikan untuk mendekatinya lebih jauh lagi.

Pada suatu hari aku mengirim SMS kepada Nina,Hi.. Nina. Aku lagi bete banget nih. Kamu mau ngga nemenin aku nonton?

Nina menjawab,Iya aku mau. Nanti aku jemput kamu jam 1 siang.

Aku senang sekali karena Nina mau terima ajakanku.

Hi Choky, aku sudah diparkiran deket kantormu. Buruan ya.. aku tunggu, ucap Nina menelponku. Kemudian aku bilang sama temen kantorku untuk mengatakan kalau aku harus pulang cepat hari ini karena ada sesuatu yang penting harus aku urus.

Hei.. Nin. Lama ya nunggu aku?

Ah.. ngga kok, balas Nina sambil turun dari mobil dan menyerahkan kunci agar aku yang nyetir. Pada saat itu aku terkesima dengan penampilannya yang sangat seksi dan wangi. Bau wangi yang mengundang libidoku.

Mobilpun meluncur ke Ambarukmo Plaza, dan sesampainya disana kami putuskan untuk langsung melihat film apa yang sedang main di studio 21.

Ternyata tidak ada film yang menarik dan aku melihat mimik wajah Nina yang elihatan males banget karena ga ada film yang asyik. Nina memang maniak nonton film dan sering kali diwaktu luang dia habiskan untuk nonton film.

Mmm.. bagaimana kalau kita ketempatku saja Nin? Lebih asyik buat ngobrol, godaku.

Yakin neh lebih asyik ngobrol ditempat kamu?, balas Nina dengan gaya yang manja.

Kalau mau tau asyik atau tidak mending kita ketempatku saja sekarang, aku mencoba meyakinnya.

Sesampainya ditempatku kami langsung menuju kamar kosku, dan aku mempersilahkan dia untuk masuk. Wah, kamar kamu bersih dan rapih banget. Jarang ada cowok serapi ini, puji Nina.

Ah, ini juga ketepatan lagi rapi saja kok Nin. Sekarang kamu santai saja, aku mau ganti baju dulu, ucapku. Tetapi dia menjawab dengan cepat,kamu ganti baju disini saja. Malu ya aku lihat kamu telanjang?

Wew, siapa takut, protesku sambil membuka bajuku satu persatu. Namun, kontolku yang berukuran 17 Cm tidak dapat diajak kerjasama. Ia sudah mengeras dan terasa hangat dibalik celan dalamku.

Wah, apa tuh dibalik celana dalam kamu. Kok sepertinya sedang ingin keluar dari sarangnya, ucap Nina berdiri sambil menghampiriku.

Di belainya dadaku dan memainkan jarinya yang lebut dengan penuh gairah. Aku berusaha untuk tenang dan tidak melakukan apa-apa kepada Nina karena aku masih canggung. Saat dia menjamah kontolku dengan memasukkan tanggannya kedalam celana dalamku, seketika darahku mendesir dan aku sangat menikmatinya.

Sayang, kamu maukan buka bajuku? pinta Nina dengan membisikannya dikupingku.

Lalu aku mulai melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dan membuka celana jeans ketat yang diapakainya. Aku terkesima saat melihat Nina hanya memakai BH dan CD saja. Tubuhnya sangat indah dan buah dadanya mulai kujamah dari luar BH-nya. Desisan dari mulutnya terdengar menikmati jariku yang mempermainkan pentilnya. Dia membuka kaitan BH-nya dan dibiarkan jatuh begitu saja ke lantai. Kudekatkan bibirku untuk menjilati pentil berwarna coklat. Cukup lama aku menghisap dan menjilati buah dadanya yang memang enak untuk dimainin.

Choky, kamu sudha pengalaman ya membuat perempuan merasa enak seperti yang aku rasakan sekarang ini? Tanya Nina saatku masih asyik dengan teteknya.

Lalu aku menjawab,Nina, aku ga pintar kok, cuma ikuti naluriku saja. Kalau kamu merasa enak, artinya kita boleh dong melakukan lebih dari ini?

Tubuhku didorongnya pelan kearah tempat tidur, dan dia menarik CD yang kupakai sehingga lepaslah kontolku dari sarang yang dari tadi menahan gejolak ereksiku. Dihirupnya bau kontolku dan mulai menjilati tepat dikepala kontolku yang merah. Dijilatinya batang kontolku seperti dia menjilati es krim. Kemudian menghisap biji kontolku dengan bergairah. Sekitar 15 menit dia bermain-main diselangkanganku. Nina berdiri dan membuka CD merah yang dipakainya. Ternyata dia perempuan yang cukup telaten merawat daerah intimnya, bulu jembutnya dipotong rapi dan terlihat indah sekali. Kutarik dia kedalam pelukanku, kucium bibirnya dengan penuh nafsu. Setalah aku puas dengan bibirnya, kuarahkan langsung ke perutnya dengan jilatan-jilatan yang merambat turun ke memeknya. Oh ternyata dia sudah basah dengan lendir yang membasahi bibir memeknya. Aku jilati dan memaini klitorisnya dan Nina mendesah dengan gerakan tubuhnya yang menunjukkan kalau dia sangat menikmati.

Masukkan kontolmu please aku sudah ga tahan choky, dia meminta dengan wajah yang sangat merangsang. Aku tidak segera mengikuti keinginannya karena aku mau membuat dia penasaran.

Kumainkan terus jariku sambil dengan gencar menjilati klitorisnya. Semenit kemudian aku mendengar suaranya dengan sedikit berteriak,Aku mau keluar sekarang.. ah.. ah.. oh.. kamu nakal banget choky. Terus jilati memekku Aaaahh ooohhh..

Terasa banyak cairan yang keluar dari dalam liang senggamanya dan pertanda dia orgasme. Kulihat wajahnya merah merona dan tersungging senyuman puas.

Sekarang giliranku yang membuat kamu memohon sama aku agar kamu mati keenakan, katanya sambil memasukkan kontolku kedalam memeknya.

Aku berada dibawah dan dia mulai menunggangiku dengan gerakan pinggulnya yang awalnya pelan lalu berubah menjadi cepat. Kucoba imbangi permainnannya dengan menggerakkan pinggulku.

Choky.. kontol kamu kok enak banget, bisik Nina dengan bernafsu. Kemudian dia memintaku untuk menusuknya dari belakang. Aku arahkan kontolku kememeknya dan aku gerakkan dengan cepat. Kupukul pantatnya dan kuremas dengan lembut. Desahan Nina terdengar tak beraturan dan aku sudha tidak perduli kalau teman-teman dikosku mendengar desahannya.

Kupacu terus dan kontolku menghujami memeknya tanpa ampun. Lebih cepat choky aku mau keluar lagiiiii oohhhh aahhh

Untuk kedua kalinya Nina mencapai orgasme dan dia terlihat lemas.

Aku mencabut kontolku dan merebahkannya ketempat tidur. Kemudian aku taruh kedua kakinya dipundakku dan kumasukkan kontolku. 15 menit kemudian aku merasa harus mengluarkan pejuku. Aku gerakkan pantatku dengan cepat dan kucabut kontolku lalu mengeluarkan air maniku kewajah Nina. Dia jilati kontolku dan menelan air maniku. Aku tiduran disampingnya dan memeluk tubuh Nina yang berkeringat. Kami berciuman mesra dan membiarkan keringat kami menyatu.

Suasana hening terpecahkan dengan pertanyaan lembutku padanya,Nina, kenapa kamu mau lakukan ini sama aku?

Choky, aku sudah suka sama kamu sejak pertam melihat kamu tapi kamu cuek banget sama aku. Sampai-sampai aku beri julukan cowok jutek kepada kamu. Ketika kamu hubugi aku untuk pertam kalinya, aku senang sekali dan berharap bisa dekat sama kamu, jelas Nina.

Sekarang kamu bukan hanya dekat sama aku. Kita baru saja menyatukan diri kita dengan bersetubuh, kataku.

Nafsu kami kembali bangkit dan kali ini kami bercinta sambil berdiri. Melakukan berbagai gaya sampai kami puas. Hampir satu bulan kami melakukannya dan akhirnya tanpa disangka olehku kalau Nina tidak ingin hubungan kami dilanjutkan.

Kami pun berpisah dan saat ini aku kembali kepada mantanku di Surabaya.

Perjalanan nafsu memang indah tetapi perjalanan cinta tidak selalu indah karena harus ada cobaan untuk membuktikan sebesar apa cinta kita kepada seseorang.

Selamat tinggal Nina dan terimakasih untuk cerita sekejap yang pernah kita buat. Lupakanlah jika kamu ingin melupakannya.

Tamat



READ MORE - Kenikmatan yang tiada taranya

Nikmatnya tubuh tetanggaku



Namaku Andi mahasiswa di sebuah universitas terkenal di Surakarta. Di kampungku sebuah desa di pinggiran kota Sragen ada seorang gadis, Ana namanya. Ana merupakan gadis yang cantik, berkulit kuning dengan body yang padat didukung postur tubuh yang tinggi membuat semua kaum Adam menelan ludah dibuatnya. Begitu juga dengan aku yang secara diam-diam menaruh hati padanya...
walaupun umurku 5 tahun dibawahnya, tapi rasa ingin memiliki dan nafsuku lebih besar dari pada mengingat selisih umur kami. Kebetulan rumah Mbak Ana tepat berada di samping rumahku dan rumah itu kiranya tidak mempunyai kamar mandi di dalamnya, melainkan bilik kecil yang ada di luar rumah. Kamar Mbak Ana berada di samping kanan rumahku, dengan sebuah jendela kaca gelap ukuran sedang. Kebiasaan Mbak Ana jika tidur lampu dalam rumahnya tetap menyala, itu kuketahui karena kebiasaan burukku yang suka mengintip orang tidur, aku sangat terangsang jika melihat Mbak Ana sedang tidur dan akhirnya aku melakukan onani di depan jendela kamar Mbak Ana.

Ketika itu aku pulang dari kuliah lewat belakang rumah karena sebelumnya aku membeli rokok Sampurna A Mild di warung yang berada di belakang rumahku. Saat aku melewati bilik Mbak Ana, aku melihat sosok tubuh yang sangat kukenal yang hanya terbungkus handuk putih bersih, tak lain adalah Mbak Ana, dan aku menyapanya, "Mau mandi Mbak," sambil menahan perasaan yang tak menentu. "Iya Ndik, mau ikutan.." jawabnya dengan senyum lebar, aku hanya tertawa menanggapi candanya. Terbersit niat jahat di hatiku, perasaanku menerawang jauh membanyangkan tubuh Mbak Ana bila tidak tertutup sehelai benangpun.

Niat itupun kulakukan walau dengan tubuh gemetar dan detak jantung yang memburu, kebetulan waktu itu keadaan sunyi dengan keremangan sore membuatku lebih leluasa. Kemudian aku mempelajari situasi di sekitar bilik tempat Mbak Ana mandi, setelah memperkirakan keadaan aman aku mulai beroperasi dan mengendap-endap mendekati bilik itu. Dengan detak jantung yang memburu aku mencari tempat yang strategis untuk mengintip Mbak Ana mandi dan dengan mudah aku menemukan sebuah lubang yang cukup besar seukuran dua jari. Dari lubang itu aku cukup leluasa menikmati kemolekan dan keindahan tubuh Mbak Ana dan seketika itu juga detak jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya, tubuhku gemetar hingga kakiku terasa tidak dapat menahan berat badanku. Kulihat tubuh yang begitu sintal dan padat dengan kulit yang bersih mulus begitu merangsang setiap nafsu lelaki yang melihatnya, apalagi sepasang panyudara dengan ukuran yang begitu menggairahkan, kuning langsat dengan puting yang coklat tegak menantang setiap lelaki.

Kemudian kupelototi tubuhnya dari atas ke bawah tanpa terlewat semilipun. Tepat di antara kedua kaki yang jenjang itu ada segumpal rambut yang lebat dan hitam, begitu indah dan saat itu tanpa sadar aku mulai menurunkan reitsletingku dan memegangi kemaluanku, aku mulai membayangkan seandainya aku dapat menyetubuhi tubuh Mbak Ana yang begitu merangsang birahiku. Terasa darahku mengalir dengan cepat dan dengusan nafasku semakin memburu tatkala aku merasakan kemaluanku begitu keras dan berdenyut-denyut. Aku mempercepat gerakan tanganku mengocok kemaluanku, tanpa sadar aku mendesah hingga mengusik keasyikan Mbak Ana mandi dan aku begitu terkejut juga takut ketika melihat Mbak Ana melirik lubang tempatku mengintipnya mandi sambil berkata, "Ndik ngintip yaa.." Seketika itu juga nafsuku hilang entah kemana berganti dengan rasa takut dan malu yang luar biasa. Kemudian aku istirahat dan mengisap rokok Mild yang kubeli sebelum pulang ke rumah, kemudian kulanjutkan kegiatanku yang terhenti sesaat.

Setelah aku mulai beraksi lagi, aku terkejut untuk kedua kalinya, seakan-akan Mbak Ana tahu akan kehadiranku lagi. Ia sengaja memamerkan keindahan tubuhnya dengan meliuk-liukkan tubuhnya dan meremas-remas payudaranya yang begitu indah dan ia mendesah-desah kenikmatan. Disaat itu juga aku mengeluarkan kemaluanku dan mengocoknya kuat-kuat. Melihat permainan yang di perlihatkan Mbak Ana, aku sangat terangsang ingin rasanya aku menerobos masuk bilik itu tapi ada rasa takut dan malu. Terpaksa aku hanya bisa melihat dari lubang tempatku mengintip.

Kemudian Mbak Ana mulai meraba-raba seluruh tubuhnya dengan tangannya yang halus disertai goyangan-goyangan pinggul, tangan kanannya berhenti tepat di liang kewanitaannya dan mulai mengusap-usap bibir kemaluannya sendiri sambil tangannya yang lain di masukkan ke bibirnya. Kemudian jemari tangannya mulai dipermainkan di atas kemaluannya yang begitu menantang dengan posisi salah satu kaki diangkat di atas bak mandi, pose yang sangat merangsang kelelakianku. Aku merasa ada sesuatu yang mendesak keluar di kemaluanku dan akhirnya sambil mendesah lirih, "Aahhkkhh.." aku mengalami puncak kepuasan dengan melakukan onani sambil melihat Mbak Ana masturbasi. Beberapa saat kemudian aku juga mendengar Mbak Ana mendesah lirih, "Oohh.. aahh.." dia juga mencapai puncak kenikmatannya dan akhirnya aku meninggalkan tempat itu dengan perasaan puas.

Di suatu sore aku berpapasan dengan Mbak Ana.
"Sini Ndik," ajaknya untuk mendekat, aku hanya mengikuti kemauannya, terbersit perasaan aneh dalam benakku.
"Mau kemana sore-sore gini," tanyanya kemudian.
"Mau keluar Mbak, beli rokok.." jawabku sekenanya.
"Di sini aja temani Mbak Ana ngobrol, Mbak Ana kesepian nih.." ajak Mbak Ana.
Dengan perlahan aku mengambil tempat persis di depan Mbak Ana, dengan niat agar aku leluasa memandangi paha mulus milik Mbak Ana yang kebetulan cuma memakai rok mini diatas lutut.
"Emangnya pada kemana, Mbak.." aku mulai menyelidik.
"Bapak sama Ibu pergi ke rumah nenek," jawabnya sambil tersenyum curiga.
"Emang ada acara apa Mbak," tanyaku lagi sambil melirik paha yang halus mulus itu ketika rok mini itu semakin tertarik ke atas.
Sambil tersenyum manis ia menjawab, "Nenek sedang sakit Ndik, yaa.. jadi aku harus nunggu rumah sendiri."
Aku hanya manggut-manggut.
"Eh.. Ndik ke dalam yuk, di luar banyak angin," katanya.
"Mbak punya CD bagus lho," katanya lagi.

Tanpa menunggu persetujuanku ia langsung masuk ke dalam, menuju TV yang di atasnya ada VCD player dan aku hanya mengikutinya dari belakang, basa-basi aku bertanya, "Filmnya apa Mbak.."
Sambil menyalakan VCD, Mbak Ana menjawab, "Titanic Ndik, udah pernah nonton."
Aku berbohong menjawab, "Belum Mbak, filmnya bagus ya.."
Mbak Ana hanya mengangguk mengiyakan pertanyaanku.

Setelah film terputar, tanpa sadar aku tertidur hingga larut malam dan entah mengapa Mbak Ana juga tidak membangunkanku. Aku melihat arloji yang tergantung di dinding tembok di atas TV menandakan tepat jam 10 malam. Aku menebarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang nampak sepi dan tak kutemui Mbak Ana. Pikiranku mulai dirasuki pikiran-pikiran yang buruk dan pikirku sekalian tidur disini aja. Memang aku sering tidur di rumah teman dan orang tuaku sudah hafal dengan kebiasaanku, akupun tidak mencemaskan jika orang tuaku mencariku. Waktu berlalu, mataku pun tidak bisa terpejam karena pikiran dan perasaanku mulai kacau, pikiran-pikiran sesat telah mendominasi sebagian akal sehatku dan terbersit niat untuk masuk ke kamar Mbak Ana. Aku terkejut dan nafasku memburu, jantungku berdetak kencang ketika melihat pintu kamar Mbak Ana terbuka lebar dan di atas tempat tidur tergolek sosok tubuh yang indah dengan posisi terlentang dengan kaki ditekuk ke atas setengah lutut hingga kelihatan sepasang paha yang gempal dan di tengah selakangan itu terlihat dengan jelas CD yang berwarna putih berkembang terlihat ada gundukan yang seakan-akan penuh dengan isi hingga mau keluar.

Nafsu dan darah lelakiku tidak tertahan lagi, kuberanikan mendekati tubuh yang hanya dibungkus dengan kain tipis dan dengan perlahan kusentuh paha yang putih itu, kuusap dari bawah sampai ke atas dan aku terkejut ketika ada gerakan pada tubuh Mbak Ana dan aku bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Sesaat kemudian aku kembali keluar melihat keadaan dan posisi tidur Mbak Ana yang menambah darah lelakiku berdesir hebat, dengan posisi kaki mengangkang terbuka lebar seakan-akan menantang supaya segera dimasuki kemaluan laki-laki.

Aku semakin berani dan mulai naik ke atas tempat tidur, tanpa pikir panjang aku mulai menjilati kedua kaki Mbak Ana dari bawah sampai ke belahan paha tanpa terlewat semilipun. Seketika itu juga ia menggelinjang kenikmatan dan aku sudah tidak mempedulikan rasa takut dan malu terhadap Mbak Ana. Sampai di selangkangan, aku merasa kepalaku dibelai kedua tangan yang halus dan akupun tidak menghiraukan kedua tangan itu. Lama-kelamaan tangan itu semakin kuat menekan kepalaku lebih masuk lagi ke dalam kemaluan Mbak Ana yang masih terbukus CD putih itu. Dia menggoyang-goyangkan pantatnya, tanpa pikir panjang aku menjilati bibir kemaluannya hingga CD yang semula kering menjadi basah terkena cairan yang keluar dari dalam liang kewanitaan Mbak Ana dan bercampur dengan air liurku.

Aku mulai menyibak penutup liang kewanitaan dan menjilati bibir kemaluan Mbak Ana yang memerah dan mulai berlendir hingga Mbak Ana terbangun dan tersentak. Secara refleks dia menampar wajahku dua kali dan mendorong tubuhku kuat-kuat hingga aku tersungkur ke belakang dan setelah sadar ia berteriak tidak terlalu keras, "Ndik kamu ngapaiin.." dengan gemetar dan perasaan yang bercampur aduk antara malu dan takut, "Maafkan aku Mbak, aku lepas kontrol," dengan terbata-bata dan aku meninggalkan kamar itu. Dengan perasaan berat aku menghempaskan pantatku ke sofa biru yang lusuh. Sesaat kemudian Mbak Ana menghampiriku, dengan tergagap aku mengulangi permintaan maafku, "Ma..ma..afkan.. aku Mbak.." Mbak Ana cuma diam entah apa yang dipikirkan dan dia duduk tepat di sampingku. Beberapa saat keheningan menyelimuti kami berdua dan kamipun disibukkan dengan pikiran kami masing-masing sampai tertidur.

Pagi itu aku bangun, kulihat Mbak Ana sudah tidak ada lagi di sisiku dan sesaat kemudian hidungku memcium aroma yang memaksa perutku mengeluarkan gemuruh yang hebat. Mbak Ana memang ahli dibidang masak. Tiba-tiba aku mendengar bisikan yang merdu memanggil namaku, "Ndik ayo makan dulu, Mbak udah siapin sarapan nih," dengan nada lembut yang seolah-olah tadi malam tidak ada kejadian apa-apa. "Iya Mbak, aku cuci muka dulu," aku menjawab dengan malas.

Sesaat kemudian kami telah melahap hidangan buatan Mbak Ana yang ada di atas meja, begitu lezatnya masakan itu hingga tidak ada yang tersisa, semua kuhabiskan. Setelah itu seperti biasa, aku menyalakan rokok Mild kesayanganku, "Ndik maafkan Mbak tadi malam ya," Mbak Ana memecah keheningan yang kami ciptakan.
"Harusnya aku tidak berlaku kasar padamu Ndik," tambahnya.
Aku jadi bingung dan menduga-duga apa maksud Mbak Ana, kemudian akupun menjawab, "Seharusnya aku yang meminta maaf pada Mbak, aku yang salah," kataku dengan menundukkan kepala.
"Tidak Ndik.. aku yang salah, aku terlalu kasar kepadamu," bisik Mbak Ana.
Akupun mulai bisa menangkap kemana arah perkataan Mbak Ana.
"Kok bisa gitu Mbak, kan aku yang salah," tanyaku memancing.
"Nggak Ndik.. aku yang salah," katanya dengan tenang, "Karena aku teledor, tapi nggak pa-pa kok Ndik."
Aku terkejut mendengar jawaban itu.

"Ndik, Mbak Ana nanya boleh nggak," bisik Mbak Ana mesra.
Dengan senyum mengembang aku menjawab, "Kenapa tidak Mbak."
Dengan ragu-ragu Mbak Ana melanjutkan kata-katanya, "Kamu udah punya pacar Ndik.." suara itu pelan sekali lebih mirip dengan bisikan.
"Dulu sih udah Mbak tapi sekarang udah bubaran." Kulihat ada perubahan di wajah Mbak Ana.
"Kenapa Ndik," dan akupun mulai bercerita tentang hubunganku dengan Maria teman SMP-ku dulu yang lari dengan laki-laki lain beberapa bulan yang lalu, Mbak Ana pun mendengarkan dengan sesekali memotong ceritaku.

"Kalo Mbak Ana udah punya cowok belum," tanyaku dengan berharap.
"Belum tuh Ndik, lagian siapa yang mau sama perawan tua seperti aku ini," jawabnya dengan raut wajah yang diselimuti mendung.
"Kamu nggak cari pacar lagi Ndik," sambung Mbak Ana.
Dengan mendengus pelan aku menjawab, "Aku takut kejadian itu terulang, takut kehilangan lagi."
Dengan senyum yang manis dia mendekatiku dan membelai rambutku dengan mesra, "Kasian kamu Andi.." lalu Mbak Ana mencium keningku dengan lembut, aku merasa ada sepasang benda yang lembut dan hangat menempel di punggungku. Sesaat kemudian perasaanku melayang entah kemana, ada getaran asing yang belum pernah kurasakan selama ini.

Bersambung . .

Nikmatnya tubuh tetanggaku - 2
"Ndik boleh Mbak jadi pengganti Maria," bisik Mbak Ana mesra.
Aku bingung, perasaanku berkecamuk antara senang dan takut, "Andik takut Mbak," jawabku lirih.
"Mbak nggak akan meninggalkanmu Ndik, percayalah," dengan kecupan yang lembut.
"Bener Mbak, Mbak Ana berani sumpah tidak akan meninggalkan Andik," bisikku spontan karena gembira.
Mbak Ana mengangguk dengan senyum...
nya yang manis, kamipun berpelukan erat seakan-akan tidak akan terpisahkan lagi.

Setelah itu kami nonton Film yang banyak adegan romantis yang secara tidak sadar membuat kami berpelukan, yang membuat kemaluanku berdiri. Entah disengaja atau tidak, kemudian Mbak Ana mulai merebahkan kepalanya di pangkuanku dan aku berusaha menahan nafsuku sekuat mungkin tapi mungkin Mbak Ana mulai menyadarinya.
"Ndik kok kamu gerak terus sih capek ya."
Dengan tersipu malu aku menjawab, "Eh.. nggak Mbak, malah Andik suka kok."
Mbak Ana tersenyum, "Tapi kok gerak-gerak terus Ndik.."
Aku mulai kebingungan, "Eh.. anu kok."
Mbak Anak menyahut, "Apaan Ndik, bikin penasaran aja."

Kemudian Mbak Ana bangun dari pangkuanku dan mulai memeriksa apa yang bergerak di bawah kepalanya dan iapun tersenyum manis sambil tertawa, "Hii.. hii.. ini to tadi yang bergerak," tanpa canggung lagi Mbak Ana membelai benda yang sejak tadi bergerak-gerak di dalam celanaku dan aku semakin tidak bisa menahan nafsu yang bergelora di dalam dadaku. Kuberanikan diri, tanganku membelai wajahnya yang cantik dan Mbak Ana seperti menikmati belaianku hingga matanya terpejam dan bibirnya yang sensual itu terbuka sedikit seperti menanti kecupan dari seorang laki-laki. Tanpa pikir panjang, kusentuhkan bibirku ke bibir Mbak Ana dan aku mulai melumat habis bibir yang merah merekah dan kami saling melumat bibir. Aku begitu terkejut ketika Mbak Ana memainkan lidahnya di dalam mulutku dan sepertinya lidahku ditarik ke dalam mulutnya, kemudian tangan kiri Mbak Ana memegang tanganku dan dibimbingnya ke belahan dadanya yang membusung dan tangan yang lain sedari tadi asyik memainkan kemaluanku. Akupun mulai berani meremas-remas buah dadanya dan Mbak Anapun menggelinjang kenikmatan, "Te..rus.. Ndik aahh.." Kemudian dengan tangan yang satunya lagi kuelus dengan lembut paha putih mulus Mbak Ana, semakin lama semakin ke atas.

Tiba-tiba aku dikejutkan tangan Mbak Ana yang semula ada di luar celana dan sekarang sudah mulai berani membuka reitsletingku dan menerobos masuk meremas-remas buah zakarku sambil berkata, "Sayang.. punyamu besar juga ya.." Akupun mulai berani mempermainkan kemaluan Mbak Ana yang masih terbungkus CD dan iapun semakin menggeliat seperti cacing kepanasan, "Aaahh lepas aja Ndik.." Sesaat kemudian CD yang melindungi bagian vital Mbak Ana sudah terhempas di lantai dan akupun mulai mempermainkan daging yang ada di dalam liang senggama Mbak Ana. "Aaahh enak, enak Ndik masukkan aja Ndik," jariku mulai masuk lebih dalam lagi, ternyata Mbak Ana sudah tidak perawan lagi, miliknya sudah agak longgar dan jariku begitu mudahnya masuk ke liang kewanitaannya.

Satu demi satu pakaian kami terhempas ke lantai sampai tubuh kami berdua polos tanpa selembar benangpun. Mbak Ana langsung memegang batang kemaluanku yang sudah membesar dan tegak berdiri, kemudian langsung diremas-remas dan diciumnya. Aku hanya bisa memejamkan mata merasakan kenikmatan yang diberikan Mbak Ana saat bibir yang lembut itu mengecup batang kemaluanku hingga basah oleh air liurnya yang hangat. Lalu lidah yang hangat itu menjilati hingga menimbulkan kenikmatan yang tak dapat digambarkan. Tidak puas menjilati batang kemaluanku, Mbak Ana memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang sensual itu hingga amblas separuhnya, secara refleks kugoyangkan pantatku maju mundur dengan pelan sambil memegangi rambut Mbak Ana yang hitam dan lembut yang menambah gairah seksualku dan aroma harum yang membuatku semakin terangsang.

Setelah puas, Mbak Ana menghempaskan pantatnya di sofa. Akupun paham dan dengan posisi kaki Mbak Ana mengangkang menginjak kedua pundakku, aku langsung mencium paha yang jenjang dari bawah sampai ke atas. Mbak Ana menggelinjang keenakan, "Aaahh.." desahan kenikmatan yang membuatku tambah bernafsu dan langsung bibir kemaluannya yang merah merekah itu kujilati sampai basah oleh air liur dan cairan yang keluar dari liang kenikmatan Mbak Ana.

Mataku terbelalak saat melihat di sekitar bibir kenikmatan itu ditumbuhi bebuluan yang halus dan lebat seperti rawa yang di tengahnya ada pulau merah merekah. Tanganku mulai beraksi menyibak kelebatan bebuluan yang tumbuh di pinggir liang kewanitaan, begitu indah dan merangsangnya liang sorga Mbak Ana ketika klitoris yang memerah menjulur keluar dan langsung kujilati hingga Mbak Ana meronta-ronta kenikmatan dan tangan Mbak Ana memegangi kepalaku serta mendorong lebih ke dalam kedua pangkal pahanya sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya hingga aku kesulitan bernafas. Tanganku yang satunya meremas-remas dan memelintir puting susu yang sudah mengeras hingga menambah kenikmatan bagi Mbak Ana.

"Ndik.. udah.. aahh, masukin.. ajaa.. oohh.." aku langsung berdiri dan siap-siap memasukkan batang kemaluanku ke lubang senggama Mbak Ana. Begitu menantang posisi Mbak Ana dengan kedua kaki mengangkang hingga kemaluannya yang merah mengkilat dan klitorisnya yang menonjol membuatku lebih bernafsu untuk meniduri tubuh Mbak Ana yang seksi dan mulus itu. Perlahan namun pasti, batang kemaluanku yang basah dan tegak kumasukkan ke dalam liang kewanitaan yang telah menganga menantikan kenikmatan sorgawi. Setelah batang kemaluanku terbenam kami secara bersamaan melenguh kenikmatan, "Aaahh.." dan mulai kugoyangkan perlahan pinggulku maju mundur, bagaikan terbang ke angkasa kenikmatan tiada tara kami reguk bersama. Bibir kamipun mulai saling memagut dan lidah Mbak Ana mulai bermain-main di dinding rongga mulutku, begitu nikmat dan hanggat. Liang senggama Mbak Ana yang sudah penuh dengan lendir kenikmatan itupun mulai menimbulkan suara yang dapat meningkatkan gairah seks kami berdua. Tubuh kamipun bermandikan keringat.

Tiba-tiba terdengar teriakan memanggil Mbak Ana. "Aaan.. Anaa.." Kami begitu terkejut, bingung dan grogi dengan bergegas kami memungut pakaian yang berserakan di lantai dan memakainya. Tanpa sadar kami salah ambil celana dalam, aku memakai CD Mbak Ana dan Mbak Ana juga memakai CD-ku. Kemudian aku keluar dari pintu belakang dan Mbak Ana membukakan pintu untuk bapak dan ibunya.

Keesokan harinya aku baru berniat mengembalikan CD milik Mbak Ana dan mengambil CD-ku yang kemarin tertukar. Aku berjalan melewati lorong sempit diantara rumahku dan rumah Mbak Ana. Kulihat Mbak Ana sedang mencuci pakaian di dekat sumur belakang rumahku. Setelah keadaan aman, aku mendekati Mbak Ana yang asyik mencuci pakaian termasuk CD-ku yang kemarin tertukar. Sambil menghisap rokok sampurna A Mild, "Mbak nih CD-nya yang kemarin tertukar," sambil duduk di bibir sumur, sekilas kami bertatap muka dan meledaklah tawa kami bersamaan, "Haa.. Haa.." mengingat kejadian kemarin yang sangat menggelikan. Setelah tawa kami mereda, aku membuka percakapan, "Mbak kapan main lagi, kan kemarin belum puas." Dengan senyum yang manis, "Kamu mau lagi Ndik, sekarang juga boleh.." Aku jadi terangsang sewaktu posisi Mbak Ana membungkuk dengan mengenakan daster tidur dan dijinjing hingga di atas lutut. "Emang ibu Mbak Ana sudah berangkat ke sawah, Mbak," sambil menempelkan kemaluanku yang mulai mengeras ke pantat Mbak Ana. "Eh..eh jangan disini Ndik, entar diliat orang kan bisa runyam."

Kemudian Mbak Ana mengajakku masuk ke kamar mandi, sesaat kemudian di dalam kamar mandi kami sudah berpelukan dan seperti kesetanan aku langsung menciumi dan menjilati leher Mbak Ana yang putih bersih. "Ohh nggak sabaran baget sih Ndik," sambil melenguh Mbak Ana berbisik lirih. "Kan kemaren terganggu Mbak." Setelah puas mencium leher aku mulai mencium bibir Mbak Ana yang merah merekah, tanganku pun mulai meremas-remas kedua bukit yang mulai merekah dan tangan yang satunya lagi beroperasi di bagian kemaluan Mbak Ana yang masih terbungkus CD yang halus dan tangan Mbak Ana pun mulai menyusup di dalam celanaku, memainkan batang kemaluanku yang mulai tegak dan berdenyut.

Sesaat kemudian pakaian kami mulai tercecer di lantai kamar mandi hingga tubuh kami polos tanpa sehelai benangpun. Tubuh Mbak Ana yang begitu seksi dan menggairahkan itu mulai kujilati mulai dari bibir turun ke leher dan berhenti tepat di tengah kedua buah dada yang ranum dengan ukuran yang cukup besar. Kemudian sambil meremas-remas belahan dada yang kiri puting susu yang kecoklatan itu kujilati hingga tegak dan keras. "Uhh.. ahh.. terus Ndik," Mbak Ana melenguh kenikmatan ketika puting susu yang mengeras itu kugigit dan kupelintir menggunakan gigi depanku. "Aaahh.. enak Mbak.." Mbak Anapun mengocok dan meremas batang kemaluanku hingga berdenyut hebat.

Kemudian aku duduk di bibir bak mandi dan Mbak Ana mulai memainkan batang kemaluanku dengan cara mengocoknya. "Ahh.. uhh.." tangan yang halus itu kemudian meremas buah zakarku dengan lembut dan bibirnya mulai menjilati batang kemaluanku. Terasa nikmat dan hangat ketika lidah Mbak Ana menyentuh lubang kencing dan memasukkan air liurnya ke dalamnya. Setelah puas menjilati, bibir Mbak Ana mulai mengulum hingga batang kemaluanku masuk ke dalam mulutnya. "Aahh.. uuhhff.." lidah Mbak Ana menjilat kemaluanku di dalam mulutnya, kedua tanganku memegangi rambut yang lembut dan harum yang menambah gairah sekaligus menekan kepala Mbak Ana supaya lebih dalam lagi hingga batang kemaluanku masuk ke mulutnya.

"Gantian dong Ndik," Mbak Ana mengiba memintaku bergantian memberi kenikmatan kepadanya. Kemudian aku memainkan kedua puting susu Mbak Ana, mulutku mulai bergerak ke bawah menuju selakangan yang banyak ditumbuhi bebuluan yang halus dan lebat. Mbak Anapun tanpa dikomando langsung mengangkangkan kedua kakinya hingga kemaluannya yang begitu indah merangsang setiap birahi laki-laki itu kelihatan dan klitorisnya yang kemerahan menonjol keluar, akupun menjilati klitoris yang kemerahan itu hingga berlendir dan membasahi bibir kemaluan Mbak Ana. "Aaahh.. aahh.. terus.. enak.." Mbak Ana menggelinjang hebat dengan memegangi kepalaku, kedua tangannya menekan lebih ke dalam lagi.

Setelah liang kenikmatan bak Ana mulai basah dengan cairan yang mengkilat dan bercampur dengan air liur, kemudian aku memasukkan kedua jariku ke dalam liang kewanitaan Mbak Ana dan kumainkan maju mundur hingga Mbak Ana menggelinjang hebat dan tidak tahan lagi. "Ndik.. oohh.. uff cepetan masukin aja.." Dengan posisi berdiri dan sebelah kaki dinaikkan ke atas bibir bak mandi, Mbak Ana mulai menyuruh memasukkan batang kemaluanku ke liang senggamanya yang sejak tadi menunggu hujaman kemaluanku. Kemudian aku memegang batang kemaluanku dan mulai memasukkan ke liang kewanitaan Mbak Ana. "Aahh.." kami bersamaan merintih kenikmatan, perlahan kuayunkan pinggulku maju mundur dan Mbak Ana mengikuti dengan memutar-mutar pinggulnya yang mengakibatkan batang kemaluanku seperti disedot dan diremas daging hidup hingga menimbulkan kenikmatan yang tiada tara. Kemudian kuciumi bibir Mbak Ana dan kuremas buah dadanya yang montok hingga Mbak Ana memejamkan matanya menahan kenikmatan. "Ahh.. uhh.." Mbak Ana melenguh dan berbisik, "Lebih kenceng lagi Ndik." Kemudian aku lebih mempercepat gerakan pantatku hingga menimbulkan suara becek, "Jreb.. crak.. jreb.. jreb.." suara yang menambah gairah dalam bermain seks hingga kami bermandikan keringat.

Setelah bosan dengan posisi seperti itu, Mbak Ana mengubah posisi dengan membungkuk, tangannya berpegangan pada bibir bak mandi kemudian aku memasukkan batang kemaluanku dari belakang. Terasa nikmat sekali ketika batang kemaluanku masuk ke liang senggama Mbak Ana. Terasa lebih sempit dan terganjal pinggul yang empuk. Kemudian tanganku memegangi leher Mbak Ana dan tangan yang lain meremas puting susunya yang bergelantungan. "Uuuhh.. ahh enak Ndik," dan aku semakin mempercepat gerakan pantatku. "Uuuhh.. uuhh Ndik, Mbak mau keluar," akupun merasakan dinding kemaluan Mbak Ana mulai menegang dan berdenyut begitu juga batang kemaluanku mulai berdenyut hebat. "Uuuhhk.. aahh.. aku juga Mbak.." Kemudian tubuh Mbak Ana mengejang dan mempercepat goyangan pinggulnya lalu sesaat kemudian dia mencapai orgasme, "Aaahh.. uuhh.." Terasa cairan hangat membasahi batang kemaluanku dan suara decakan itupun semakin membecek "Jreeb.. crak.. jreb.." Akupun tak tahan lagi merasakan segumpalan sesuatu akan keluar dari lubang kencingku. "Aaahh.. oohh.. Mbak Anaa.." Terasa tulang-tulangku lepas semua, begitu capek. Akupun tetap berada di atas tubuh sintal Mbak Ana. Kemudian kukecup leher dan mulut Mbak Ana, "Makasih Mbak, Mbak Ana memang hebat.." Mbak Anapun cuma tersenyum manis.

Setelah kejadian itu, aku dan Mbak Ana selalu melakukan hubungan seks jika kami menginginkannya sampai sekarang dan kebetulan tepat tanggal 12 Agustus 2000 Mbak Ana terlambat bulan, tapi untungnya pada tanggal 4 Nopember 2000 Mbak Ana mengalami keguguran padahal kami telah sepakat akan membuka rahasia kami pada kedua orang tua tapi niat itu kami batalkan ketika terjadi keguguran itu dan kami masih selalu melakukan hubungan seks itu sampai sekarang. Rahasia ini hanya kami berdua yang tahu sampai kukirim kisah ini ke 17tahun.com. Kami berencana di awal tahun 2001 akan melaksanakan pernikahan, kami minta doa restu kepada para pembaca semoga kami dapat membangun keluarga yang bahagia lahir dan batin. Amiin..

Tamat


READ MORE - Nikmatnya tubuh tetanggaku

Istri pejabat

Cerita ini terjadi setelah beberapa tahun sejak aku lulus SMU, saat itu usiaku kira-kira menginjak 22 tahun, dimana keadaan ekonomi orang tuaku sedang mengalami cobaan. Karena kesulitan ekonomi, dan karena kakakku sudah telanjur masuk universitas swasta yang sudah mengeluarkan biaya yang cukup besar maka orang tuaku hanya mampu membiayai kuliah kakakku untuk menyelesaikan studiny...
a, dan dalam kondisi ini aku terpaksa mengalah tidak mendapatkan biaya untuk melanjutkan sekolah lagi, bahkan harus ikut berjuang mencari tambahan sesuap nasi. Namun tekadku untuk menjadi orang yang berguna tetap besar. Aku tidak boleh putus asa, aku harus melanjutkan sekolah sampai mendapat gelar sarjana, tekadku sudah bulat. Aku akan mencari uang sendiri untuk biaya kuliahku.

Aku mencari universitas swasta yang memberikan kuliahnya pada malam hari, sehingga aku dapat bekerja mencari uang pada siang hari. Tetapi bagaimana mungkin di jaman edan ini seorang lulusan SMU seperti aku ini dengan mudah dapat pekerjaan, sedangkan yang sarjana bahkan S2 saja masih banyak yang menganggur. Aku sudah bertekad, pekerjaan apa saja aku terima asal mendapatkan gaji. Dari kantor satu ke kantor lainnya sudah aku masuki tetapi kelihatannya sulit sekali mendapatkan pekerjaan dengan modal tanpa keahlian. Tapi aku ingat pepatah, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Aku tidak putus asa dan setelah ke sana ke mari dengan memakan waktu yang cukup lama, akhirnya aku mendapat pekerjaan di sebuah salon kecantikan di daerah Tebet, daerah orang-orang The Haves. Namun karena aku tidak punya keahlian apa-apa, aku hanya dijadikan tukang cuci rambut para pelanggan sebelum dipotong. Pekerjaan ini aku terima dengan ikhlas. Kata orang tua, kalau bekerja dengan ikhlas, maka di situ ada hikmah dan tidak terasa capai.

Pemilik salon tersebut seorang wanita keturunan China yang baik sekali dengan postur yang mempesona. Lagi-lagi aku mulai menilai setiap wanita yang aku temukan. Usianya kira-kira antara 30 tahun dan dia belum punya suami, entah kalau menikah, aku tidak tahu sudah apa belum. Dadanya sebetulnya tidak begitu besar, mungkin kira-kira ukuran BH-nya sekitar 32C. Tapi bulat pinggulnya, aduh.. indah sekali, membuat laki-laki tidak berkedip matanya kalau mamandangnya. Dengan kebiasaan sehari-hari dia selalu memakai pakaian yang ketat, maka bentuk tubuhnya yang cukup padat, membuat postur tubuhnya sangat enak untuk dipandang, apalagi dengan kulit yang putih. Aku sudah mulai lagi dengan membayangkan bagaimana kalau pembungkus itu tidak ada. Tapi kenapa belum ada laki-laki yang mau menikahinya? Andaikata dia menawariku, pasti tanpa berpikir panjang lagi kuterima. Oh ya teman-teman, dia selalu memakai rok mini, sehingga menambah inventaris pandangan pada dirinya, kadang-kadang terlihat paha mulusnya terkuak agak ke atas.

Pelanggan di salon itu cukup banyak, laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, tetapi yang paling banyak adalah ibu-ibu yang kelihatannya usianya sekitar 36 sampai 38 tahun. Aku cukup berpengalaman menaksir usia seorang wanita. Dan dapat dipastikan yang datang adalah orang-orang berduit. Kalau pelanggan laki-laki yang banyak, itu disebabkan karena penampilan pemiliknya yang menarik, ditambah keramah-tamahan yang jarang dimiliki oleh pemilik salon lainnya yang kadang-kadang genit menggoda.

Banyak juga pelanggan rutin yang hampir tiap hari Sabtu datang, dan ini didominasi oleh kaum ibu. Dan salah satunya adalah seorang ibu kira-kira usianya 36 tahun dengan wajah cukup cantik tetapi kulit tidak terlalu putih, tapi juga tidak terlalu hitam, sedang-sedang saja. Tinggi badan kira-kira 165 cm, cukup ideal untuk ukuran seorang wanita. Ukuran BH-nya belum kelihatan meskipun dilihat dari samping, karena dia selalu memakai pakaian blouse longgar, sehingga sulit untuk memprediksi ukurannya dari luar, entah kalau nanti dari dalam. Dan anehnya setiap dia datang, dia selalu meminta aku yang melayani untuk mencuci rambutnya, meskipun aku sedang ada pekerjaan mencuci rambut pelanggan lainnya. Bila perlu ditunggunya. Oh ya, rambutnya cukup lebat, hitam mengkilat (seperti iklan shampo di TV) dan kalau diurai, bukan main indahnya dengan potongan yang sangat bagus, dengan panjang sampai ke punggung. Hal itu yang membuat kecantikannya semakin bertambah, karena potongan rambutnya dibuat seperti potongan rambutnya Cindy Crawford.

Penampilan sehari-harinya, rambutnya disanggul modern seperti layaknya istri seorang pejabat. Dia datang setiap hari Kamis jam 09.30, hampir selalu tepat. Seringkali minta dicreambath, tetapi kadang-kadang juga hanya cuci saja. Setiap datang, dia paling sedikitnya menghabiskan uang lebih kurang dua ratus ribu rupiah, ya untuk perawatan lainnya. Sampai suatu hari, hari itu hari Rabu pagi kira-kira jam 10.00, dia datang dengan tergesa-gesa masuk ke dalam salon sambil mencariku.
"Mana Rully, mana Rully.." katanya.
"Ya Bu.. Rully ada di sini", sambutku sambil ketakutan, ada apa kiranya dia mencariku.
"Ah kamu, cepet cuciin rambutku segera, aku ada undangan nih. Udah agak terlambat.. maklum bangunnya kesiangan", katanya.
"Rambutnya mau diapain Bu?" kataku.
"Cuma dicuciin saja kok", katanya lagi.
"Baik Bu, di sini Bu.." kataku sambil menunjuk tempat duduk untuk mencuci rambut.
Dia langsung merebahkan tubuhnya ke kursi tersebut sambil menyibakkan rambutnya ke belakang, baunya wangi.

Aku mulai mencuci rambutnya sambil memijat-mijat kecil kepalanya, kemudian pipinya kuusap lembut dengan telapak tangan diiringi pijatan kecil. Hal ini sering kulakukan kepada pelangganku untuk merangsang syaraf rambut dan syaraf muka. Mataku dari atas kepalanya memandang tubuhnya yang telentang di atas kursi cuci. Oh, kelihatannya dia tidak memakai BH. Hal ini terlihat dengan tonjolan dari puting susunya. Memang kalau sedang dalam posisi berdiri tidak seorang pun yang dapat melihatnya karena bajunya yang longgar. Dengan kancing blouse bagian atas terlepas satu, aku dapat menangkap belahan dada yang terkuak keluar. Kelihatannya dia tidak menyadari akan hal itu, bahkan malah memejamkan matanya, menikmati pijitan kecilku, yang sudah sampai ke lehernya.

"Rul.. kamu udah lama kerja di sini?" tiba-tiba keheningan dipecahkan suara ibu tadi.
"Baru dua bulan Bu.. saya perhatikan Ibu hampir tiap minggu ke sini ya Bu?" namun pembicaraan ini tiba-tiba terputus.
"Aduh Rul.. itu jerawat kok kamu pijit, sakit dong!" katanya sambil meraba jerawat yang dengan tidak sengaja kupijit.
"Oh ini toh, maaf Bu saya nggak sengaja. Habis sembunyi tertutup rambut sih.." kataku.
"Ibu kok jerawatan sih? Anu ya.. nggak.." aku tidak berani melanjutkan, takut ibu itu marah. Tapi malah dianya dengan santainya yang melanjutkan.
"Kamu mau ngomong, nggak tersalurkan ya? Kamu memang nakal kok", katanya acuh tak acuh.
"Rambut Ibu bagus loh, lebat dan hitam kayak yang di TV", kataku mulai berani menggoda.
"Ah masak sih.." katanya tersipu-sipu.

Memang begitulah wanita kalau mendapat pujian atau godaan meskipun dari seorang lelaki pencuci rambut, perasaannya terbang menerawang nun jauh di sana.
"Rul.. bisa nggak sih kalau cuci begini dipanggil ke rumah. Kalau bisa kan enak ya."
"Nggak berani Bu saya, nanti kalau ketahuan dimarahin. Cari kerja susah", kataku.
"Kalau aku bilang bossmu gimana?" katanya tidak mau kalah.
"Terserah Ibu, " kataku lagi tanpa bisa membela diri lagi.
"Zus.. Zus.." teriaknya langsung ke pemilik salon.
"Ada apa Bu?" jawab pemilik salon itu.
"Boleh nggak kapan-kapan aku cucinya di rumah saja. Nanti aku tambah biayanya", katanya lagi.
"Waduh Bu maaf nggak bisa Bu. Soalnya kan masih banyak pelanggan lainnya, Bu. Betul-betul maaf Bu.. tapi kalau di luar jam kerja atau pas dia libur boleh-boleh saja sih", kata pemilik salon.

Waduh, aku nggak bisa menolak deh. Bossku sudah mengatakan seperti itu. Aku nggak enak kalau mencuci di rumah, soalnya aku rasa nggak bebas, apalagi belum tentu ada kursi cuci seperti di salon. Kerjanya kurang enak.
"Tapi Bu.. di sini saja ya Bu.." pintaku.
"Kenapa? kamu nggak mau ya mencuci aku di rumah", katanya dengan nada agak tinggi.
Waduh marah nih orang, biasa istri seorang pembesar kalau kamauannya tidak dituruti cepat ngambek.
"Nggak gitu Bu, kan di rumah nggak ada kursi seperti ini Bu.." kataku menolak dengan halus.
"Siapa bilang nggak ada.. kamu menghina ya.. kalo nggak mau ya sudah", katanya semakin tinggi. Wah.. wah.. ini benar-benar marah.
"Maafkan saya Bu, saya nggak bermaksud untuk menolak permintaan Ibu. Tapi baiklah Bu, kapan Ibu mau Rully siap kok Bu.." kataku mengakhiri permintaannya.
"Nah gitu dong.. terima kasih ya Rull.." katanya puas.

Aku terus memijit bahunya dengan jari-jariku sedikit masuk ke dalam lubang leher bajunya, "Hmm.. enak di situ Rull", suara itu keluar dari mulutnya yang mungil. Di situ aku urut agak lama, sekitar 15 menit. Belahan dadanya semakin terkuak saat jariku turun masuk. Dari sini aku dapat melihat dan memperkirakan ukuran buah dadanya, pasti ukuran BH-nya 36 entah A, B atau C, aku nggak perduli, yang penting buah dada itu sungguh besar meskipun sudah agak turun. Cuma sampai saat itu aku belum melihat putingnya sebesar apa dan warnanya apa.

"Bu sekarang sudah setengah sebelas loh Bu, Ibu mau berangkat undangan jam berapa?"
"Nanti aku dijemput bapak jam 11 persis", katanya.
Aku berpikir, aku selesaikan 15 menit lagi kemudian mengeringkan 15 menit sambil merapikan, aku kira cukup, karena rambutnya hanya disisir dengan teruai alami saja, sehingga tidak perlu waktu banyak untuk menyanggul segala. Saat jam 11.00 tepat suaminya menjemput dan langsung pergi.

"Terima kasih ya Rull.." katanya sambil memberikan tip kepadaku, aku lihat uang lima puluh ribuan dua lembar. Aku bersyukur sekali karena uang sebesar itu pada saat itu sangat berharga. Hari itu rasanya cepat sekali berlalu. Aku pulang dari kerja jam empat sore, istirahat sebentar kemudian aku berangkat kuliah. Aku mengambil Fakultas Ilmu Komunikasi, yang tugasnya nggak begitu banyak.

Sampai di rumah jam sepuluh lewat lima belas menit, aku mencuci muka kemudian langsung beranjak ke tempat tidur. Mata rasanya mengantuk sekali tapi nggak bisa ditidurkan. Pikiranku melayang dan mengkhayal apa yang telah aku lihat pagi tadi. Buah dada yang masih segar, dengan warna coklat muda mendekati warna cream. Lama aku mengkhayal, dan akhirnya aku pun tertidur pulas.

Bersambung . . . .



Istri pejabat - 2
Pagi harinya, sesampainya aku di salon, bossku menyampaikan pesan telepon dari ibu pejabat kemarin, katanya dia minta untuk dicuci rambutnya di rumah mengingat dia tidak ada kendaraan untuk jalan ke salon. Kalau aku kurang jelas supaya aku telepon balik ke sana. Aku pikir sedikit aneh, kemarin baru dicuci kok sekarang minta dicuci lagi. Tapi peduli amat, yang penting uang masuk k...
antong, pikirku. Kuputar nomor telepon yang diberikan oleh bossku.

"Hallo.. ini dari salon.. di Tebet, bisa bicara dengan Ibu.. aduh siapa ya namanya Ibu itu.." aku sedikit gugup.
"Ya halo.. oo.. dari salon.. dengan siapa nih."
"Dengan Rully Bu.." kataku.
"Oh ya Rull, tadi Ibu telpon tapi kamu belum datang. Gini.. aku minta kamu datang ke rumah.. bisa? untuk cuci rambutku.. aku nggak ada kendaraan Rull",
"Maaf Bu, kalau jam kerja ini nggak bisa.. sedangkan kalau sore saya sekolah Bu.. gimana kalau besok padi Bu, kebetulan giliran saya libur", kataku.
"Aduh gimana ya.. tapi oke lah kalo nggak bisa.. besok jam berapa kamu datang?"
"Jam sembilan Bu.. ya lebih-lebih sedikit gitu.." kataku.

Esok harinya aku benar-benar datang ke alamat yang diberikan, di bilangan daerah Tebet juga. Rumahnya minta ampun besarnya. Pintu pagarnya tinggi sekali sehingga orang tidak bisa melihat aktifitas yang dilakukan oleh penghuni rumah. Aku jadi berpikir, dari mana uang sebanyak ini untuk beli rumah sebesar itu, sedangkan keluargaku untuk mencari biaya sekolah anaknya saja tidak mampu. Kupencet bell yang ada di samping pintu gerbang. Tidak berapa lama keluar seorang perempuan separuh baya membuka pintu, kelihatannya pembantunya.

"Cari siapa Dik?"
"Ee.. e.. Ibu.." aku nggak melanjutkannya karena aku belum tahu nama ibu pejabat yang kemarin. Aku juga bodoh, kenapa kemarin nggak aku tanyakan ke orang salon.
"Ibu Tia maksud adik.." katanya. Oooh, namanya Tia, baru tahu aku.
"I.. iya.. Mbak.." kataku sedikit gugup.
"Adik dari salon ya? udah ditunggu Ibu di dalam", katanya.
Aku masuk lewat pintu garasi yang menuju ke bagian belakang rumah. Di garasi berjajar dua buah mobil bermerek, warna biru tua dan silver. Aku semakin minder saja melihat pemandangan tersebut.

"Kok sepi Mbak.." tanyaku agak heran mengingat rumah sebesar itu tidak ada penghuninya.
"Kami hanya berempat Dik.. Bapak, Ibu, supir yang kebetulan adalah suami saya sendiri dan saya sendiri.. sekarang Bapak sedang pergi ke Bandung diantar supir pakai mobil dinas."
"Ooo.." hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku terheran-heran.

Aku masuk ke belakang, ditunjukannya jalan menuju ke suatu ruangan. Di ruangan tersebut, kira-kira ukuran 5 x 6 meter persegi tersedia peralatan salon lengkap dengan dua buah kursi cuci dan satu buah pengering. Untuk apa barang sebanyak ini kalau tiap minggu tetap pergi ke salon, pikirku. Memang kadang-kadang orang kebanyakan duit jalan pikirannya kurang rasional, yang dipikirnya hanya bagaimana caranya menghabiskan duitnya. Tanpa berpikir bagaimana supaya duitnya bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkannya.

Nggak berapa lama, muncul Ibu Tia di belakangku,
"Pagi Rull.."
"Pagi Bu.." kataku agak kaget.
Ibu Tia pagi itu memakai pakaian senam warna cream dipadu dengan bawahan warna merah muda, dengan rambut digelung ke atas, sehingga menampilkan lehernya yang mulus dan tergolong panjang. Keringatnya masih mengucur dari tubuhnya, membuat tubuhnya makin menempel pada baju senamnya. Kelihatan lekuk tubuhnya yang menempel pada baju senamnya, terutama bagian dadanya, nampak tonjolan kecil yang kelihatan sedikit tegak. Sedang bagian bawah, membekas belahan kecil di antara selangkangannya.

"Kamu kok bengong Rull", katanya memecah kesunyian.
"Ah nggak Bu.. saya cuma.."
"Cuman apa.. cuman ngeliatin gitu", katanya terus terang.
Ibu Tia membuka gelungannya dan menyibak-nyibakkan rambutnya ke belakang sehingga tergerai lepas. Betul-betul potongan rambut yang sangat menggairahkan menyerupai potongan rambut Cindy Crawford.
"Sekarang kita mulai ya Rull.." katanya sambil merebahkan tubuhnya di atas kursi cuci. Dengan pakaian ketat seperti itu dan posisi rebahan seperti itu, kelihatan sekali kalau buah dadanya masih kencang diusianya yang 36 tahun. Buah dadanya masih mendongak ke atas dengan putingnya yang agak menonjol. Belahan dadanya terlihat di balik pakaian senamnya yang terbuka agak lebar di bawah leher. Aku termangu memandang pemandangan yang menggairahkan nafsuku sebagai laki-laki normal.

Kubuka kran air di wastafel yang telah disediakan khusus untuk cuci rambut, kumasukkan semua rambut yang panjang dan hitam mengkilap itu, mulailah aku mencucinya sampai beberapa menit. Aku lihat Ibu Tia memejamkan matanya sambil kedua tangannya bersedekap di bawah buah dadanya sehingga buah dadanya ketarik ke atas, membuat lebih jelasnya dua buah puting kembar di atas dua bulatan buah dada tersebut. Aku memandanginya sambil tanganku sedikit memberikan pijitan-pijitan kecil di kepalanya, setelah proses pencucian rambut selesai. Pemijitan mula-mula aku lakukan hanya di bagian kepala, kemudian turun di belakang leher, dan kemudian sampai di kedua bahunya.

"Nah di situ Rull.. enak Rull.. aku jarang pijat sih akhir-akhir ini.." katanya sambil matanya tetap terpejam. Sambil memijat bahunya, jari-jariku kucoba sedikit turun menuju belahan dadanya yang montok itu, sambil kuberikan pijitan kecil. Ibu Tia malah membusungkan dadanya sambil menghela nafas. Makin besar helaan nafasnya, semakin menonjol buah dadanya, dan semakin senang aku melihat pemandangan gratis ini. Aku coba lagi jariku lebih turun agak masuk ke dalam belahan dadanya, sambil terus melakukan pijitan kecil. Tapi pijitanku lebih cenderung meraba, karena saking lembutnya. Ternyata pijitanku tadi membuat Ibu Tia agak gelisah, mendongakkan kepala, menaikkan dadanya, menggeser posisi tidurnya dan lain sebagainya. Kelihatan Ibu Tia mulai terangsang dengan rabaanku tadi. Tapi Ibu Tia tidak mengadakan reaksi apapun kecuali menurut apa yang aku lakukan.

Aku semakin berani mengadakan percobaan selanjutnya. Kali ini aku sudah kepalang nekat, kumasukkan kedua tanganku ke dalam belahan dadanya dan menyentuh kedua buah kembarnya, dan kuusap keduanya dengan memutar arah keluar. Ibu Tia semakin membusungkan dadanya seakan-akan mau diserahkan buah kembar itu kepadaku dengan ikhlas. Gairah sudah menjalar ke dalam tubuh Ibu Tia.

Tiba-tiba..
"Rull.." aku kaget setengah mati, cepat-cepat kutarik kedua tanganku dari daerah terlarangnya.
"Ya.. Bu.. rambutnya mau dikeringin Bu.." kataku sekenanya untuk mengalihkan perhatiannya. Badanku gemetaran menanti apa yang akan dilakukan padaku yang telah berbuat kurang ajar tadi.
"Ma.. maaf Bu.. kelakuan saya tadi Bu.." kataku sambil menghiba.
"Oh nggak apa-apa.. enak kok.. Oh ya, rambutnya nggak usah dikeringin pakai pengering.. biar kering sendiri.. Nah sekarang teruskan pijitanmu", kata Ibu Tia seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Tapi tubuhnya digesernya ke atas, sehingga posisi dadanya semakin mendongak ke atas. Aku menenangkan diri beberapa saat, kemudian mulai memijit-mijit lagi di bagian depan. Aku ulangi lagi apa yang tadi kulakukan. Ibu Tia diam, bahkan reaksinya di luar dugaanku. Tanganku ditangkapnya dan dimasukkan ke dalam belahan dadanya. Pucuk dicinta ulam tiba, Tanganku menyambut tarikan itu dengan buru-buru meremas kedua buah dada tersebut. Reaksinya di luar dugaan, bahkan kali ini tidak ketinggalan, pantatnya pun ikut diangkat.
"Rull.. kamu kok nakal sih.." desahnya hampir tidak bersuara.

Masih kenyal dan keras buah dada Ibu Tia. Tanganku masih menelusup ke baju senamnya meraba, meremas, dan sesekali kusentuh puting susunya yang sudah tegak berdiri. "Och.. och.." hanya itu ucapan yang keluar dari mulutnya. Kemudian tangannya merangkul kepalaku yang berada di atasnya dan ditariknya wajahku mendekati wajahnya dan seterusnya diciumnya bibirku dengan ganasnya. "Aauch.." aku kaget bukan main. Aku tidak siap dengan gerakan tersebut, sehingga aku gelagapan dan agak terdorong ke depan hampir jatuh. Akibatnya peganganku pada buah dadanya semakin erat.

"Aduh Rull.. jangan kencang-kencang dong pegangnya.." kata Ibu Tia sambil mencium bibir, sedangkan lidahnya mulai beraksi di kerongkonganku, memutar-mutar, menyedot lidahku dengan penuh gairah. Aku tidak sabar, kulorotkan baju senamnya dari belahan lehernya turun ke bawah sampai perut sehingga terbukalah tubuh bagian atasnya, dan tersembullah dua buah dada yang indah dengan puting yang kecil berdiri tegak. Aku merubah posisi, tidak lagi dari atas kepalanya, tetapi berada di sampingnya sambil tanganku mengusap-usap buah dadanya. Kutundukkan wajahku, kucium buah dadanya dan.. "Heh.. heh.." nafas Ibu Tia terdengar ngos-ngosan menahan birahi yang sudah memuncak. Aku jilat puting susunya, makin kelihatan memerah berkilau karena basah oleh air liurku.

"Geli.. Rull.. aduh.. eenak Rull.. huh.. huh.." kembali nafasnya tidak terkontrol lagi.
Sementara tangannya menggapai-gapai mencari pahaku, kemudian dipeluknya pahaku sekuat tenaga seakan menahan sesuatu yang akan pecah, sehingga jilatanku pada puting buah dadanya terlepas. Sekarang posisiku berdiri sedang Ibu Tia menciumi pahaku sambil mencari selangkanganku. Diremasnya pantatku yang masih padat berisi, digigitnya tonjolan di dalam celanaku.
"Aduh Bu.."
"Kenapa Rull.."
"Enak Bu.." kataku sambil terpejam merasakan kejutan yang diberikannya.

Sambil berdiri, tanganku mencari buah dadanya yang menggantung karena posisinya yang membungkuk. Kuremas, kumainkan putingnya kembali dengan sedikit memberikan cubitan-cubitan kecil, sementara gigitannya masih terus dilanjutkan. Kemudian tangan yang mulus itu mencari retsliting celanaku dan dibukanya, terus dipelorotkan sekalian celana dalamku, langsung saja kejantananku yang sudah sejak tadi tegang mencuat keluar tegak membentuk sudut 45 derajat ke atas. Ibu Tia kelihatan kaget menyaksikan apa yang baru saja terjadi, diam sebentar kemudian mulailah tangannya memegang kejantananku dengan lembutnya sambil berdiri dan sekarang posisi kami saling berhadapan, saling memegang, tanganku memainkan buah dadanya, sedang tangannya memainkan kejantananku. Bibirnya didekatkan ke bibirku sambil berbisik,
"Rull.. aku pingin Rull.."
Aku diam tidak menjawabnya, bukan karena aku tidak mau, tapi sudah tidak ada lagi kata-kata yang bersarang di kepalaku, yang ada hanya nafsu yang sudah memuncak.

Beberapa saat kemudian langsung dikulumnya bibirku dan kami saling berpagut, lidah kami saling melilit, saling sedot. Tanganku mulai bergerilya ke bawah menelusup ke dalam celana senamnya yang tidak memakai celana dalam sehingga tanpa kesulitan sampailah aku pada gundukan yang sudah basah tertutup oleh rambut-rambut halus. Jari tengahku mencari lembahnya, kemudian terus aku sentuh klitorisnya.
"Aduh Rull.. geli sayang.."

Aku tidak peduli, aku lanjutkan gerilyaku. Aku gosok-gosok klitorisnya dengan perlahan-lahan takut kalau menimbulkan rasa sakit. Sementara tangan kananku memainkan kewanitaannya, bibirku tetap bermain dengan lidah ke dalam bibirnya, sedang tangan kiriku meremas pantatnya yang masih keras. Dan sebaliknya, tangan kanannya masih memainkan kejantananku, sedang tangan kirinya meremas pantatku juga. Dengan gairah yang semakin besar, mulutku kuturunkan ke buah dadanya, dan kuciumi, serta aku sedot puting susunya yang sejak tadi sudah berdiri tegak dengan warna merah kehitam-hitaman. Ibu Tia menggelinjang sambil membusungkan dadanya, sambil mendesah kenikmatan dan semakin bernafsu aku dibuatnya dengan dada yang makin ke depan.

"Rul.. cepet masukin.."
Kelihatannya Ibu Tia ingin cepat-cepat menyelesaikan permainan ini. Aku kemudian mengambil posisi jongkok, kupelorotkan celana senamnya maka terlihatlah olehku benda yang tertutup oleh rambut-rambut kecil yang sedikit basah sudah terpampang di hadapanku. Sambil memeluk kedua pahanya, kucium kewanitaannya dengan ganas. Aku sibakkan rambut-rambut tersebut, kumasukkan mulutku ke celahnya dan kusedot cairan lendir yang ada di sekitarnya sampai kering.

"Aach.. Rull.." teriak Ibu Tia.
"Eeh Ibu.. nanti kedengaran orang lo Bu.."
"Habis kamu nakal sih."
Dijambak-jambaknya rambutku ditekankannya kepalaku ke dalam sehingga makin kencang menempel ke dalam kewanitaannya.
"Rull.. kita ke ruang sebelah yuk.." katanya.

Sambil berpelukan kami berdua berjalan menuju ruang sebelah yang berukuran cukup besar 5 x 5 meter persegi dilengkapi meja, kursi santai dan satu sofa berbentuk empat persegi panjang. Ibu Tia membimbingku menuju sofa tersebut. Kemudian dia membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan posisi telentang dan rambutnya yang panjang dan sudah kering tersebut tergerai ke lantai. Pemandangan yang sangat mengesankan, sebentar-sebentar Ibu Tia menyibakkan rambutnya. Nafsuku semakin menggebu, mungkin Ibu Tia sengaja untuk memancing nafsuku dengan keindahan rambutnya. Ditariknya kepalaku ke arah kewanitaannya kembali. Di situ aku teruskan permainanku. Kujilati klitorisnya, kusedot, kumasukkan lidahku dalam-dalam dan Ibu Tia merintih, "Aduh.. Rul.. enak.." suaranya hampir tidak bersuara.

Ibu Tia kemudian meyuruhku naik ke atas tubuhnya dengan kepalaku tetap memainkan kewanitaannya. Diciuminya kejantananku sambil dikocok-kocok kecil dengan tangannya.
"Aduh nikmat Bu.." adegan tersebut kami lakukan cukup lama, tetapi Ibu Tia tidak pernah memasukkan kejantananku ke dalam mulutnya. Aku tidak mengerti, mungkin gengsinya masih besar, meskipun nafsu sedang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tapi dengan ciumannya dan kocokannya sudah cukup membuatku merem melek. Kujilati terus klitorisnya sehingga "Acchh.. Rully.. aku.. mau.. kee.. aduh.. aduh.. Rully.. aauucchh.. eenak.. oh ya.. oh ya.. aku nggak tahan.." Tapi aku tetap saja memainkannya sampai akhirnya Ibu Tia sudah betul-betul tidak tahan.

Dan tiba-tiba Ibu Tia bangkit dan membalikkan tubuhnya, mengangkangkan kakinya ke kanan dan ke kiri sofa, menarik kepalaku, dan sambil menciumi bibirku dia berbisik lirih, "Rull masukkan ya.." tangannya sambil memegang kejantananku menuntunnya ke lubang kewanitaannya yang sudah basah. Digesek-gesekannya kejantananku ke bibir lubangnya, kemudian.. "Bles..", masuklah kejantananku semuanya. Ditekannya pantatku seakan-akan Ibu Tia tidak mau ada sebagian kejantananku yang tersisa. Dengan posisi kejantananku di dalam, aku diamkan beberapa saat, sambil bibirku mengulum bibir Ibu Tia dan tanganku meremas buah dadanya, terasa sedotan kecil dari kewanitaan Ibu Tia terhadap kejantananku. Enak sekali, makin lama makin keras sedotannya. "Oh.. oh.. oh.." aku mengerang kenikmatan. "Ibu.. Ibu.. aauucch.. oh.. oh.." tapi aku tidak mau keluar duluan. Aku buang konsentrasi pikiranku ke tempat lain, dan aku mulai memompa kejantananku di kewanitaan Ibu Tia. Ganti dia yang mengerang kenikmatan.

"Aaucchh.. auch.. heh.. Rull.. aduh.. terus Rull.. lebih cepet.. auch.. aduh enak sekali Rull.." pompaanku semakin cepat dan semakin cepat, sementara puting susunya aku sedot sampai ludes. "Ach.. ach.." hanya suara itu yang keluar dari mulut Ibu Tia. "Aduh.. aduh.. ach.. ach.." kaki Ibu Tia menjepit pinggulku, diangkatnya pantatnya, tangannya merangkul leherku dengan keras sekali dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas, terasa cairan di lubang kewanitaannya semakin deras membasahi kejantananku. Ibu Tia kemudian lemas sambil terengah-engah puas. "Kamu hebat Rull.." tangannya tetap merangkul leherku dan bibirnya tetap mencium bibirku. Sedangkan aku tetap memompa kejantananku ke dalam kewanitaannya, basah sekali. "Saya cabut dulu ya Bu.. dikeringkan dulu.." kataku. Ibu Tia maklum atas permintaanku.

Setelah berada di luar, dibersihkannya kewanitaannya dan kejantananku dengan kain bersih, sambil tangannya mengocok kejantananku agar tetap berdiri tegak. Setelah beberapa saat aku mulai memompanya kembali di dalam kewanitaannya dan kembali sedotannya terasa pada kejantananku. Dan.. "Aauch.. auch.." dia mengerang lagi. Lama hal ini kulakukan dan.. "Aduh Rull aku mau keeluaarr.." kelihatan Ibu Tia untuk kedua kalinya mencapai kepuasannya. Terasa sekali jepitannya semakin kencang, membuat aku tidak tahan dan aku pun ikut mencapai kenikmatan. "Aaacchh.. Bu.. Bu.." Kemudian kami pun lunglai dengan posisi aku tetap di atasnya. Kucium bibirnya.

Setelah kami sama-sama mendapat kenikmatan, aku punya kerja lagi yaitu mengkramasi kembali rambutnya tapi tidak apalah, rambut seorang wanita cantik. Sambil memelukku dan menciumku, "Makasih ya Rull..", katanya sambil menyelipkan sesuatu ke dalam genggaman telapak tanganku.
"Saya juga terima kasih, Bu.. dan maafin ya Bu kelakuan saya tadi", kataku sambil tersenyum.
"Sampai kamis depan ya Rull.."
"Wah pekerjaan lagi nih.." batinku dengan senang, kemudian kutinggalkan rumah mewah tersebut dengan perasaan puas sekali.

Demikian kisahku dengan istri pejabat, mudah-mudahan pembaca dapat menikmatinya.

Tamat



READ MORE -
Sabtu, 23 Maret 2013

Nama aku Teddy


Nama aku Teddy, umur 22 tahun, tinggi 175 cm, panjang penisku 17cm. Aku ingin menceritakan kejadian yang mana kejadian ini saya melakukan hubungan sex yakni kepada kakak pacar saya yang bernama Desi 23 tahun, Bra 36, tinggi 170 Cm, dan berat badannya 60 Kg serta pacarku Dewi bernama memiliki umur 21 tahun, tinggi 168 Cm, berat 55 Kg dan ukuran Bra 34 C.

Kejadian yang saya alami tersebut terjadi p...
ada hari minggu tgl 20 April 2003 yang lalu. Pada waktu itu saya berniat mendatangi rumah pacarku (mengapeli) sekalian minta jatah kepadanya dan juga karena pada malam minggunya saya ada acara bersama keluarga.Ketika saya sampai kerumah pacarku dibilangan Ps.Minggu rupanya pacarku sedang pulang kampung bersama ortu dan adik-adiknya ke palembang selama 16 hari karena kakeknya meninggal dunia dan yang ada dirumah hanya Desi (Kakak perempuannya).

Setelah saya tahu bahwasannya pacar saya tidak ada dirumah akhirnya saya minta izin kepada kakaknya. Namun kakaknya menganjurkan kepada saya agar au mampir dulu kerumah sebentar dan juga menemani dia main PS dirumah. Kebetulan waktu itu Psnya ada didalam kamar Desi. Ketika saya sedang asyik main saya melihat ada sebuah kotak bekas kotak sepatu, ketika saya buka saya kaget melihat isi didalamnya rupanya isi didalamnya terdapat alat bantu sex yang berbentu Penis serta beberapa VCD Porno keluaran VIVID USA. Kakak saya pada waktu itu tidak mengetahui bahwasannya saya membuka kotak mainannya dan ketika saya ambil isinya serta saya tanyakan kepadanya “Apa ini Kak?” Langsung saja saya melihat expresi mukanya yang langsung memerah. Terus dia Jawab “Mau tahu saja kamu anak kecil”. Kakak selama ini tidak ada pelampiasan yach selama Kak Budi (Pacarnya = Awak Kapal) ada dilaut.

“Achhhh bisa saja kamu” Jawabnya.,

“Kakak mau aku bantu gak” jawabku.,

Tanpa menunggu jawabannya langsung saja kusergap bibir seksinya itu sambilan aku memainkan payudaranya. Setelah itu pelan-pelan tanganku menjalar masuk kedalam bajunya, kuraba pelan perutnya sampai kedalam Bhnya serta aku masukkan telunjuk tanganku kedalam roknya sambil meraba permukaan Cdnya.

“Ted jangan Ted, aku ini kakaknya Dewi”

“Kak Desi, aku ingin sekali ML sama kakak, apakah kakak nggak mau ML sama aku,” tanyaku.

“Aku bukannya nggak mau, tetapi aku malu sama kamu”, jawabnya

“Buat apa kakak maulu dengan aku, dan juga dirumah ini gak ada orang lain yang tahu selain kita”, jawabku

Perlahan-lahan aku ajak dia menuju ranjangnya dan langsung saja kudekati dan kuremas payudaranya.

“Sabar dong…Buka dulu bajumu itu”

Kubuka seluruh bajuku, kupeluk dan kucium bibirnya.

“Wowww penismu besar sekali dan panjang lagi, lebih mantap dari punyanya Mas Budi.”

Tanganku meremas-remas payudaranya yang montok. “Isap doooong… Pintanya”.

Aku mulai menghisap . “Achhh….terus…nikmat ted…oh, ayo….” Aku semakin bernafsu mendengar desahannya itu, sekitar 5 menit aku menikmati payudaranya.

Oh….sstt….jilat Vegiku ted…Pintanya sambil gemetaran. Bibirku langsung menjilati selangkangannya. Lidahku menjilati Vegi-nya yang super becek. Saat lubang kemaluan itu tersentuh ujung lidahku, aku agak kaget karena lubang Vegi-nya itu selain mengeluarkan aroma mawar rasanya pun agak manis-manis legit, beda dengan Vegi pacarku dan dan teman wanitaku yang pernah aku jilat, sehingga aku betah menikmatinya.

“ardgg…arghh…enak banget ted, gue jadi merinding rasanya dan kayaknya mau keluar5 lagi nich, gue suka banget nich, dan lidah elo enak bangeeeet ted”.

“Iya Kak, Teddy juga suka sekali rasanya, Vegi kakak manis banget rasanya”.

“Auuu….auuuu…ted…dddd”.

Terasa ujung lidahku disemprot oleh sedikit cairan bersamaan dengan pantatnya yang diangkat tinggi menempelkan semua Vegi-nya kemukaku. “Teddd…teddd….Kakak keluar tedddd”. Bibir Vegi-nya yang sebelah kutarik perlahan dengan bibirku, sambil kugigit dengan lembut. Dia benar-benar menikmati. “Aduh-aduh enak banget teddd”. Lidahkupun mengaduk-aduk lubang Vegi-nya yang sudah basah sekali.

“Tedd ..sekarang teddd…” Segera aku naik keatas tubuhnya, dia juga sudah siap sekali dengan mengangkangkan lebar-lebar menunggu datangnya Teddy Junior. Perlahan-lahan kugesek-gesek adikku dibibir Vegi-nya, sengaja tidak langsung kumasuki lubang Vegi-nya, aku hanya menggesek-gesek. Dia bertambah nafsu, “Ted, ayo ted, masukin ted, kakak butuh ted, ayo ted”. Tangannya segera memegang batang juniorku dan segera dibimbingnya masuk kedalam lubang Vegi-nya.

“Au…ted, ujungnya gede banget ted” katanya ketika dia memegang ujung juniorku. “inikan yang enak kak, kadi kakak gak mau nich, ya sudah kalau gak mau gak usah dimasukkin”.

“Jangan ted, mau ted, mau ted…cuman takut saja sebab pacar kakak punyanya kecil dan pendek sekali”.

“Auchhh…auuuuu…” teriaknya ketika adikku mulai masuk kedalam memeknya, terasa seret sekali”. “Aduh…ted…sakit…enak…sakitt…en akkkkk”.

“Sakit apa enak kak?” “Tahulah ted, ada sakit sedikit dan enaknya bukan main rasanya, rasanya sampai keujung mulut rahimku ted”.

Pelan kuajun juniorku keluar masuk Vegi-nya, baru beberapa sodokan dia sudah menjerit, “Tedd…teddd…kakak keluar…teddd…auuuu…auuuu…”

“Yach, baru begitu saja sudah keluar” Jawabku,

Terasa sekali kepala adikku dihisap dan dipelintir oleh Vegi-nya yang enak sekali, terasa sekali otot vegi-nyamasih kencang, sambil kutusuk terus vegi-nya, aku tetap menghisap pentil susunya yang begitu indah. “Slrupp…slrupp..” Terdengar setiap aku menarik dan menekan Vegi-nya.

“Kak gantian kak, kakak diatas yach”

“Yach ted, tapi ajarin yach”.

Sekarang posisiku ada dibawah , dia segera naik keatas perutku dan dengan segera dipegang nya juniorku sambil diarahkan ke Vegi-nya. Kulihat Vegi-nya indah seklai dengan bulu-bulu pendek yang membuat rasa gatal dan enak waktu bergesekkan dengan Vegi-nya. “Auuuuu…enak banget kak Vegi kakak”.

“Sekarang gantian teddy yang kakak bikin enak yach” katanya sambil memutar pantatnya yang bahenol , rasanya batang juniorku mau patah ketika diputarnya juniorku di dalam Vegi-nya dg berputar makin lama makin cepat.

“Auuu…kak…enak bangettt kak….”

Akupun bangun sambil mulutku mencari pentil susunya , segera kukemut dan kuhisap.

“Ted..ted…ini bisa bikin kakak keluar lagi nich ted…rasanya mentok sekali ted” memang dengan posisi ini terasa sekali ujung juniorku menyentuh peranakan nya.

“Ech..ech….” Suaranya setiap kali aku menyodok vegi-nya. “ted..ayo ted, kakak mau keluar lagi nich” “Tahan kak saya juga mau keluar nich”.

Segera kugenjot memeknya dengan cepat . Dia seperti keserupan setiap dia naik turun diatas juniorku yang jepit oleh Vegi-nya.

“Kak…saya mau keluar kak…” “Ayo ted kakak juga mau nich” “Auuuu….kakkkk”

“yach teddd…. Kakak juga mau keluar nich…..achhhh….achhhh”

Kupeluk erat dia sambil menyemprotkan semua maniku kedalam Vegi-nya.

“Ted…aduhhhh enak banget ted… teddy punya enak banget”

“Kamu punya juga enak kak, bodoh benar pacar kakak meninggalkan kakak demi pekerjaannya dilaut, belum tentu 1 tahun dia bisa pulang.”

Diapun segera rebah diatas badanku, kami berdua lemas, sambil tidur diatas badanku, kuelus terus dari kepala sampai kepantatnya dengan lembut.

“Makasih yach Ted, kakak sudah lama menahan nafsu”.

“Saya juga kak”.

“Janji yach tedd, kakak mau lagi kalau kamu memintanya kepada kakak”.

“Siiip dech kak, tapi hati-hati yach jaga rahasia kita berdua dari Dewi yach kak”.

“OK, Ted”.

Selama 16 hari tersebut kami bebas melakukan hubungan sex dengan kakak pacarku dirumahnya dan setelah itu kami melakukannya diwaktu senggang dan diluar/dihotel. Dan juga aku tidak lupa meminta jatah kepada pacarku setelah pulang dari palembang.




READ MORE - Nama aku Teddy

Nadia, Vera dan Poppy


Ketika saya masih kuliah dulu boleh dikatakan termasuk salah satu mahasiswa yang
banyak digandrungi oleh cewek. Muka ganteng dengan dagu kebiru-biruan karena bulu yang tercukur rapi dan badan yang tegap. Terus terang saja saya juga sering melakukan hubungan seks dengan beberapa teman yang memang membutuhkannya. Meskipun demikian saya masih memilih yang benar-benar sesuai deng...
an selera saya. Dari hubungan-hubungan intim itu, timbul rahasia umum di kalangan mahasiswi bahwa batang kemaluan saya panjang dan besar dan yang penting tahan lama bersenggama. Tidak heran kalau setiap akhir minggu ada saja telepon berdering mengajak nonton atau pesta yang kemudian berakhir dengan hubungan intim.

Kebetulan saya punya teman agak kebanci-bancian. Biasanya orang demikian punya kenalan yang luas. Setelah saya lulus dan bekerja di suatu perusahaan cukup ternama, teman tersebut menelepon.
"Heh, mau nggak gua kenalin sama pengusaha wanita sebut saja namanya Vera dan Poppy."
"Mau", jawab saya.
Kebetulan sudah beberapa dua minggu ini nafsu saya tidak tersalurkan karena kesibukan kantor. Padahal bekas-bekas teman kuliah dulu masih sering menelepon.
"Dia sudah tahu muka lewat foto lu."
"Sialan nih anak, jual-jual foto segala", pikir saya.
Tapi ada syaratnya. Katanya mereka nggak mau resiko kena penyakit. Jadi saya diminta periksa dulu di dokter kelamin. Ada-ada saja permintaannya. Dokter dan jamnya ditentukan juga, sebut saja namanya Nadia. Pada hari yang ditentukan sekitar jam 8 malam, usai dari kantor saya langsung ke tempat praktek Nadia. Ternyata disana sudah nggak ada pasien.

Saya heran karena susternya sudah nggak ada. Saya ketuk pintu terus pintu dibukakan. Ternyata Dokter Nadia sangat cantik sekali. Saya sebentar agak terpana.
"Masuk saudara Rudi", katanya.
Setelah berbasa-basi sebentar, dia bertanya:
"Katanya mau bermain dengan Mbak Vera dan Mbak Poppy ya." sambil mengerling dan tersenyum.
Saya ketawa kecil saja. "Gimana sih untuk membuktikan tidak kena penyakit kelamin", tanya saya.
"Yah, mesti diperiksa air maninya", jawabnya.
"Kalau mau sih saya bantu mengeluarkan", katanya sambil membuka pahanya yang putih mulus itu. Wah kebetulan ini, pikir saya. Terus dia kebelakang sebentar dan keluar lagi.
"Mbak kalau suaminya atau supirnya datang gimana?"
"Suami saya kerja di luar negeri kok dan kebetulan hari ini saya sengaja nggak bawa supir", katanya sambil membuka baju prakteknya.

Ternyata di balik baju sudah tidak ada selembar benang pun. Dengan manja dia duduk di pangkuan saya. Dan saya pun langsung mencium bibir, leher, telinga, kemudian menyusur ke belahan dadanya yang kuning mulus. Terdengar Nadia mulai mendesah kenikmatan. "Akh.. Rud, hisep terus Rud." Secara bergantian saya hisap puting susunya sambil melayangkan jari ke lubang kemaluannya. Terdengar Nadia tambah mengerang-erang kenikmatan. Setelah sepuluh menit berselang, Nadia menarik diri, terus membuka kancing baju dan celana saya sehingga tampak dada saya yang berbulu dan batang kemaluan yang mulai menegang. Tampak Nadia terkagum dengan dada saya yang bidang dan berbulu dan batang kemuluan saya yang panjang dan besar sehingga dia menggesekkan dadanya ke dada saya dengan menciumi bibir dan leher saya. "Gila Rud, kamu jantan sekali", katanya.

Setelah itu, Nadia menarik diri lagi dan berdiri kemudian membawa kepala saya ke lubang kemaluannya. Kemaluannya sangat teratur sekali ditumbuhi dengan bulu-bulu halus yang teratur secara rapi. Dengan semangat, saya jilati lubang kemaluannya sambil meremas buah dadanya.
"Aduh Rud, nikmat. Teru.. U.. S", dengan napas yang tersengal-sengal.
Ketika kakinya semakin mengejang, saya tahu bahwa Nadia mau orgasme. Kemudian saya angkat dia dan saya taruh di meja periksa pasien. Dengan kaki yang mengangkang lebar, "Rud cepet dong selesaikan saya", katanya dengan meminta.
Dengan pelan-pelan saya masukkan batang kemaluan saya yang panjang dan besar itu. Terlihat mata Nadia membelalak kenikmatan kemudian mengerang. Saya gerakkan pantat saya memutar ke kiri dan ke kanan sebentar. Terlihat Nadia sudah tidak dapat menahan orgasmenya, maka saya ganti dengan gerakan menusuk.
"Aduh Rud gila nikmat sekali", katanya.
Sebentar kemudian cengkeraman Nadia sangat erat. Dengan sedikit menjerit, Nadia merangkulkan kakinya ke punggung dan selanjutnya terhempas dengan melepas nafas panjang.

Melihat saya belum apa-apa dia agak bingung juga. "Gimana Rud ya. Masih lama atau nggak?" Saya jawab masih lama. "Jangan lama-lama ya Rud, soalnya besok saya mau ke kerja lagi. Bisa-bisa ngantuk saya." Dengan agak capai, Nadia bangun kemudian meminta saya duduk. Dia masih melihat alat kelamin saya yang masih tegang. "Gede dan panjang banget sih Rud. Pasti Mbak Vera dan Mbak Poppy puas deh dengan kamu. Tapi awas lho mereka itu buas sekali kalau di ranjang", ujarnya. Saya cuma ketawa saja.

Dengan segera, Nadia kemudian melumat batang kemaluan saya sudah tegang. Aduh ternyata, Nadia sangat lihat sekali memainkan lidahnya di ujung kemaluan saya meskipun tidak sampai separuh yang dikulumnya karena besar dan panjang. Setelah sekitar 15 menit terasa sperma saya mulai mengumpul. Kemudian saya tarik Nadia dan saya taruh lagi di meja pasien dengan posisi telungkup. "Aduh Rud, jangan Rud, capai saya", katanya. Tapi saya nggak mempedulikan. Dengan posisi doggy ini saya masukkan lagi penis saya ke lubang kemaluannya. Terdengar Nadia menjerit kenikmatan yang disusul dengan rintihan dan erangan. "Terus Rud,.. terus.." kemudian badannya mengejang dan terdengar erangan panjang.
"Sudah mau keluar Rud", tanya.
"Belum", jawab saya.
Dengan posisi doggy kemudian saya teruskan penetrasi. Saya kasihan juga melihat Nadia kecapaian. Terasa mau keluar kemudian saya tarik Nadia untuk mengulum batang kemaluan saya lagi. "Oh.. nikmat sekali." Beberapa menit kemudian, saya bilang sama Nadia bahwa mau keluar. "Semprotkan di dalam saja sebagian" katanya. Akh.. sebagian ditelan langsung, sebagian kemudian dimasukkan ke dalam tempat untuk diperiksa. "Gila kamu Rud, kayaknya kamu belum apa-apa ya." Saya cuma tersenyum saja.

Tamat



READ MORE - Nadia, Vera dan Poppy